“Aku merampok,” suaranya seperti gelas yang dibanting dengan intonasi seperti orang menyesal, berharap Ratmi paham dan melarangnya di kemudian hari.
“Bagus, Mas. Apa pun pekerjaanmu, yang penting bisa mendatangkan harta yang banyak. Aku ingin kau besok merampok lebih banyak lagi,” jawab Ratmi membuat ia terkejut dan tiba-tiba menoleh dengan bibir bergeming dan wajah yang tamapk marah. Ia tak menduga Ratmi sangat mendukung dirinya untuk terus merampok. Ia tak menjawab. Beranjak ke arah kamar.

“Aku mau istirahat dulu,” pintanya dengan nada agak nyaring, lalu masuk kamar dengan kepala yang serasa diimpit ribuan batu. Ia merasa bahwa dirinya tak bisa melakukan sesuatu sebagaimana yang disarankan oleh Martono untuk berpikir seolah sedang tidak terjadi apa-apa.
“Ughhh!” aduhnya sembari membenamkan wajah ke tumpukan bantal. Masih terlintas di pikirannya tentang peristiwa perampokan itu, yang mungkin di luar sana memantik banyak amarah yang tertuju pada dirinya, baik dari aparat dan yang lainnya. Ia terus membenamkan kepala pada cekung empuk bantal, sambil lalu ia merasakan pena gaib malaikat Atid bergerak pelan mencatat perbuatan itu dengan tinta hitam di bahu kirinya.
“Mas! Besok merampok lagi ya!” suara Ratmi terdengar dari arah pintu. Sementara lelaki itu tetap tak merespon suara istrinya itu.
***
Sekali merampok, membuat lelaki itu bagai diancam ribuan mulut pistol yang berkerubung di sekujur tubuh dengan jari-jari yang telah sigap hendak menekan pelatuk. Ia tak ingin mengenang lagi wajah Martono, bahkan ia berencana meninggalkan Ratmi yang ia anggap sebagai biang terjadinya perbuatan keji itu.
Ratmi ternyata ketagihan dengan perolehan hasil ia merampok pertama kali. Ia ingin lelaki itu kembali beraksi dan mengumpulkan harta yang lebih banyak dari hari itu. Lelaki itu sering dibujuk bahkan diancam olehnya agar kembali bergabung dengan Martono. Nyaris tiap waktu lelaki itu hanya menjadi patung lugu di hadapan Ratmi yang ngomel sambil berkacak pinggang.
Lelaki itu hanya melirik sayu dengan kedua mata yang menatap redup bagai sumbu kandil yang kehabisan minyak. Bibirnya bergeming, kian kering di dekat hamparan pipi cekungnya yang kentara oleh tikam-tikam duka. Ia hanya bisa diam, menangis, dan mengelus dada, terlebih setelah sempat ia lihat di televisi bahwa dirinya sedang diburu polisi. Jalan terbaik yang ia ambil adalah pindah menuju daerah lain dan berencana mengontrak rumah yang letaknya jauh di pedalaman. Selain karena faktor keamanan, rumah yang ada di pedalaman menurutnya lebih berkarib dengan kesunyian, sedang ia yakin kesunyian adalah rahim bagi sebuah ketenangan yang suatu saat bisa jadi jalan putih menuju Tuhan.
Setelah melalui proses yang alot, akhirnya ia memilih rumah yang tirainya merah marun itu. Di rumah itulah ia sedikit lebih tenang. Setiap hari—terutama saat pagi hari—ia duduk di balik tirai yang terbelah itu, tepatnya pada sebuah meja kecil bundar lusuh, sesekali melihat matahari dan ingin jadi matahari yang selalu tak mau bersekutu dengan kegelapan.
