Perlu Pendekatan Multidisiplin Sikapi Isu Moderasi Beragama dan Ekoteologi 

“Melalui pelatihan ini, kami ingin menciptakan rumusan bersama tentang praktik moderasi beragama yang kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman, sekaligus mengintegrasikannya dengan kesadaran lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UIN Jakarta dalam pidatonya menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menyikapi isu moderasi beragama dan lingkungan. “Kita tidak bisa lagi memandang moderasi beragama dan isu lingkungan sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya saling terkait dan perlu disinergikan melalui pendekatan ekoteologi,” tegas Prof. Asep.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pelatihan ini menghadirkan narasumber berkompeten dari berbagai latar belakang, antara lain Dr. Marzuki Wahid (pakar moderasi beragama), Dr. Latifatul Khasanah (ahli ekoteologi), Dr. Sholehuddin, M.Pd (praktisi pendidikan moderasi), dan Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga (pakar dialog antaragama). Keberagaman narasumber ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang komprehensif bagi peserta.

Ditegaskan Dr. Ruchman Bashori, pelatihan ini memiliki arti strategis dalam memperkuat kebijakan moderasi beragama yang dicanangkan Kementerian Agama. Sebagai institusi yang membidangi pembiayaan pendidikan agama, Puspenma melihat pentingnya internalisasi nilai-nilai moderasi dan ekoteologi dalam sistem pendidikan, mulai dari level kebijakan hingga praktik di lapangan.

“Integrasi ekoteologi dalam pelatihan ini merupakan terobosan baru dalam pendekatan moderasi beragama. Pendekatan ini dinilai tepat untuk merespons tantangan lingkungan global sekaligus mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam konteks kekinian. Ekoteologi diharapkan dapat menjadi perspektif baru dalam memahami relasi antara manusia, agama, dan alam semest,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan