PMII Unpam dan JDS Gelar Workshop Penulisan

Rangkaian kelas ini akan berlanjut pada 12 Maret 2026 melalui sesi Kelas Penulisan Kreatif (Puisi) yang menghadirkan penyair Mahwi Air Tawar, sebagai pemateri. Sesi ini dirancang untuk memperluas cakrawala peserta bahwa dunia kepenulisan tidak hanya berhenti pada karya jurnalistik seperti berita, artikel, dan opini, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan karya sastra.

Dalam sejarah kepenulisan Indonesia, batas antara jurnalisme dan sastra kerap saling bersinggungan. Banyak jurnalis menulis dengan kepekaan sastra, dan sebaliknya banyak sastrawan yang memiliki tradisi menulis di media massa. Keduanya sama-sama berangkat dari kepekaan terhadap realitas sosial: jurnalistik berusaha merekam fakta secara aktual, sementara sastra menghadirkan kedalaman pengalaman manusia melalui bahasa yang lebih imajinatif dan reflektif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tradisi ini juga tampak kuat dalam lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), yang melahirkan sejumlah tokoh dengan perhatian besar terhadap sastra dan kebudayaan. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), misalnya, dikenal tidak hanya sebagai tokoh pemikir dan Presiden Republik Indonesia ke-4, tetapi juga pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Gus Dur memiliki minat besar terhadap dunia sastra dan kebudayaan serta aktif menulis esai, kolom, dan refleksi budaya di berbagai media.

Selain Gus Dur, ada pula KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dikenal sebagai penyair dan budayawan dengan karya-karya puisi yang banyak berbicara tentang kemanusiaan, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Nama lain seperti Ahmad Tohari, novelis yang dikenal melalui karya Ronggeng Dukuh Paruk, serta penyair Madura D. Zawawi Imron, juga merupakan figur penting yang menunjukkan kuatnya hubungan antara tradisi pesantren, sastra, dan kebudayaan.

Di generasi yang lebih muda, budayawan Ngatawi Al-Zastrouw dan penyair Acep Zamzam Noor turut memperkaya khazanah sastra Indonesia melalui puisi, esai, dan aktivitas kebudayaan yang mereka bangun di lingkungan pesantren. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa tradisi intelektual di lingkungan NU tidak hanya berkembang melalui forum keagamaan dan organisasi, tetapi juga melalui karya sastra dan kebudayaan.

Melalui sesi penulisan kreatif ini, peserta diharapkan dapat melihat bahwa karya jurnalistik dan karya sastra saling melengkapi. Jika jurnalistik mengasah ketepatan dalam merekam fakta, sastra melatih kepekaan bahasa dan kedalaman refleksi. Keduanya menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang ingin menulis secara kritis sekaligus kreatif dalam membaca realitas sosial di sekitarnya.

Melalui kegiatan ini, PMII berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga mampu menjadi penulis yang kritis dan kreatif dalam merespons berbagai persoalan sosial, budaya, dan kemanusiaan di sekitarnya.

Catatan: Penulisan berita jurnalistik ini dihimpun dari berbagai tulisan praktik peserta Kelas Jurnalistik PMII Rayon Fakultas Ekonomi Unoam, jejaring duniasantri, dan Al-Zastrouw Library.

Tinggalkan Balasan