Aku duduk di depan jendela kaca. Sebuah buku terbuka yang terabaikan. Perhatianku teralih melihat pemandangan kota yang dipenuhi orang-orang bepergian. Ramadan tersisa satu hari, tapi aku tak pulang.
Tahun ini adalah tahun kedua setelah ibu tiada. Tahun kedua aku menyendiri di kota ini bagai orang tak memiliki keluarga. Bapak telah menikah lagi dengan seorang wanita yang memiliki dua anak yang usianya lebih tua dariku.

Pada awalnya terasa manis memiliki keluarga baru. Aku berpikir, ini adalah awal baik untuk membentuk keluarga utuh. Tapi harapan itu runtuh bersama dengan sikap ibu tiri yang mulai berubah di bulan ke lima. Makin lama, aku diperlakukan makin buruk, baik oleh ibu tiri maupun kedua anaknya. Demi membebaskan diri dari sakit mental, aku pergi ke kota kecil tapi ramai.
Ayah sesekali datang, tapi hanya sebentar. Sejak kecil, ia jarang di rumah; ibu menahan diri, sepertinya ayah tak mencintai ibu.
Dulu aku sering mendengar cerita miring tentang ayah yang tak mencintai Ilibu, dan itu sepertinya benar. Pernikahan mereka sebatas status. Aku sering dititipkan ke rumah nenek, sedangkan ibu bekerja. Ayah jarang pulang, nafkahnya juga tak mencukupi kebutuhan keluarga. Rasa tidak cintanya seperti sampai padaku, mereka menikah memang dijodohkan, tapi kenapa aku menanggung segalanya.
***
Hari ini adalah hari pertama puasa. Aku disibukkan dengan pekerjaan. Kesibukan membuatku tenggelam jauh, hingga panggilan dari ayah terabaikan.
Suatu petang di ramadan kedua, aku terkejut saat lokasi tempat makan sudah penuh. Sekelompok keluarga datang tanpa memberitahu terlebih untuk memesan tempat. Aku mendekat, dan mengenali mereka; mereka adalah keluarga yang tak ingin aku anggap keluarga. Tanpa basa-basi, ayah, ibu tiri, dan dua anak perempuannya duduk canggung. Aku juga terasa bingung.
“Maaf, tempat ini sudah dipesan,” ujarku kikuk.
“Sepertinya kita harus cari tempat lain,” balas istri ayah, sambil hendak beranjak
