Puasa dan Kepedulian Sosial

Maka Ramadan tahun ini, meski tidak sama dalam mengawali puasa, umat Islam tidak meributkannya. Semua pihak adem ayem tanpa adanya perdebatan yang berarti. Berangkat dari hal tersebut, marilah kita perluas implementasi toleransi dengan tetap menghargai perbedaan yang terjadi dalam hal hal terkait ubudiyah (ibadah) selama bulan Ramadan, semisal perbedaan jumlah rekaat salat tarawih, atau bahkan bisa jadi perbedaan dalam penetapan 1 Syawal nanti. Ini membuktikan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga sebagai media memupuk toleransi dengan sesama dengan menahan diri dari menghujat siapa pun yang berbeda pandangannya dengan kita.

Imam syafi’i pernah berkata:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

رأيي صواب يحتمل الخطأ ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب.

Pendapatku benar(menurutku sendiri) tapi bisa jadi salah, dan pendapat selainku salah(menurutku) dan bisa jadi pendapat itu benar.

RMeningkatkan Kepedulian Sosial

Kelangkaan minyak goreng yang menyebabkan melambungnya harga komoditi tersebut merupakan cobaan bangsa ini yang tidak hanya di rasakan oleh umat Islam, tapi seluruh warga negara. Minyak goreng jenis premium bisa naik dua kali lipat per liter.  Tentu umat Islam sebagai mayoritas di negeri ini yang memasuki bulan Ramadan disera kesulitan. Lebih-lebih kalangan menengah ke bawah, kelompok mustadl’afin (wong cilik) yang hidup dari menjual gorengan dan sektor sektor yang mengandalkan minyak goreng.

Ironisnya, masih banyak beberapa pihak yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Bisa dilacak di mesin pencarian Google berita penimbunan minyak goreng dalam jumlah yang fantastis. Padahal, Islam jelas melarang aktivitas tersebut karena masuk dalam kategori ihtikar (penimbunan).

Upaya penimbunan bahan pokok seperti minyak goreng tidak bisa dibenarkan karena bisa menyebabkan kelangkaan dan sangat mnyusahkan kalangan menengah kebawah.  Dabi pernah bersabda sebagaimana pernah diriwayatkan oleh Umar bin khattab R.A.

Tinggalkan Balasan