Karakter itu meliputi pemikiran (kognitif), sikap (attitude), perilaku, motivasi, dan keterampilan diri. Karakter positif dapat dibentuk melalui ritual ibadah puasa. Pada aspek kognitif, misalnya, remaja lebih mampu berpikir dengan jernih, bahkan berdampak pada prestasi akademik. Mereka menjadi mudah berkonsentrasi pada satu tugas sekolah. Pada aspek afeksi, puasa melatih kesabaran, emosi lebih stabil, peka, dan empati. Sedangkan, aspek perilaku, remaja menjadi displin terutama dalam managemen waktu. Karekter positif tersebut secara langsung berdampak pada kesehatan mental dan fisik remaja.
Rasanya tidak mungkin, ketika seorang remaja sedang menjalankan ibadah puasa, di saat bersamaan melakukan perilaku-perilaku yang tercela. Jikapun ada di antara mereka, remaja yang berpuasa juga melakukan hal-hal diluar kendali seperti merusak atau bertindak secara kriminal, maka mereka belum memaknai puasa sebagai rangkaian ibadah untuk mendapatkan predikat takwa.

Definisi takwa sangatlah luas. Unsur ketakwaan itu sendiri adalah memperoleh ketentraman hidup dengan melakukan pengendalian diri dari perbuatan yang keji dan munkar. Oleh karenanya, untuk menanamkan nilai-nilai karakter positif bagi remaja, maka memang perlu dibangun lingkungan baik fisik maupun sosial yang kondusif melalui keteladanan dalam keluarga, misalnya di saat orang tua dan anak-anak berkumpul bersama, di sekolah misalnya membuat agenda tadarus selama bulan puasa, bersedekah, atau melaksanakan agenda salat sunat berjamaah.
