Perlu diketahui bahwa remaja memiliki dinamika psikologis yang cukup kompleks, terutama pada aspek emosional dan sosial. Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan dewasa. Remaja belajar untuk menyesuaikan diri dengan menjadi individu yang mandiri. Belajar untuk lepas tidak bergantung pada figur otoritasnya. Mereka memiliki tugas perkembangan yang harus dilakukan misalnya independen secara emosional dan sosial.
Tentu bukanlah hal yang mudah bagi seseorang menjalani masa remaja dengan baik. Pergulatan batin mereka menunjukkan begitu sulit fase ini. Belum juga adanya stereotipe dari masyarakat di mana remaja sebagai pribadi yang merusak, sulit dipercaya, sering melakukan tindakan kriminal, tidak bertanggung jawab. Apalagi diperkuat dengan berita di berbagai media, yang menayangkan aksi bejat sekolompok remaja atau individu yang melakukan tindak kejahatan. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak pejabat pajak misalnya, atau kasus pembacokan yang dilakukan oleh sekelompok remaja. Belum juga kasus kesehatan mental lainnya yang dialami oleh banyak remaja yang mungkin lepas dari sorot media.

Tentu ini menjadi problem yang bisa merusak citra positif dari remaja itu sendiri. Oleh karenanya menjadi tantangan bagi remaja untuk menepis anggapan bahwa remaja adalah individu yang emosional. Melalui momen puasa inilah, remaja bisa belajar untuk tumbuh sebagai karakter pribadi yang positif.
