SELENDANG RINDUÂ
Pada ufuk yang memerah,
aku kabarkan rindu menjejak nurani
tentang kisah pelangi
berderai di atas matamu yang sabit

Genggamlah riak pesona bianglala
memagut gembala kasih
di rimbun celoteh anjangsana
Biarkan aku luruh,
bersimpuh di palung hatimu
membaca aksara petala warna
tentangmu di deru laut gelombang cinta
Syahdan!
nada senarai wujudmu
mendaras sekuntum riak rembulan
Batuputih, 21-09-2026.
MENARA ALIFMU MENUSUK HATIKU
Serpihan takbir,
memburu jejak petualang
Alif alismu menabuh genderang
bertalu, memburu relung jiwa
di sepanjang nada napasmu
aku rebah terbakar apimu
Menara alifmu,
adalah sebuah kepastian
membaca aksara rindu
pada pematang raya kedipmu
Aku memandang rembulan,
dan pelangi selendang mayang
Dekaplah hasrat,
biar meraup serpihan pelita
Batuputih, 21-09-2026.
KARAM BERTALU DI HATIMU YANG RANUM
Entah!
bisikan hati mana bersenarai janji
Kedip beribu kunang,
memeluk geriap malam
sunyi hati menabuh harap
Peluklah aku,
biar enyah selaksa luka
bulir-bulir air mata
adalah tanda dari sebuah asmara
Teratai mengepak sayap,
berharap kemarau mengeja hujan
agar bergerai sekepal angan
Tetaplah merangkai kasidah,
bermadah burdah kencana pitaloka
Batuputih, 21-09-2026.
SAJAK AKSARAMU BERDERU
Di ceruk dadaku,
sajak aksaramu mengikat gelombang
memendar cahaya purnama,
menasbihkan butiran cinta
Senandung pipit,
di hijau pucuk lembayung
adalah langgam madah puisi
karam di lautmu yang merindu
Aku memeluk api,
menjadi suluh asmara Pitaloka
Aku mendekap hujan,
menjadi embun di hatimu, Rif!
