Lebih jauh lagi, kita harus memaknai bahwa hafalan Al-Qur’an bukanlah tujuan akhir. Sebagai umat Muslim, Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang harus dihayati dan diamalkan. Penghafal Al-Qur’an yang baik adalah mereka yang tidak hanya berhenti pada tahapan menghafal, tetapi memanfaatkan ayat-ayat tersebut untuk menyebarkan kebaikan, membimbing masyarakat, dan memperbaiki diri secara terus-menerus. Sebab, kedudukan seseorang di sisi Allah di akhirat bergantung pada bagaimana dia membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Hal ini ditegaskan lagi dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al-Qur’an, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca (hafal).’” (Hadits riwayat Abdullah bin ‘Amr). Ini menunjukkan bahwa sebagai penghafal Al-Qur’an prioritas terletak pada kualitas bacaan dan penghayatan, bukan sekedar jumlah ayat yang berhasil dihafal.

Jadi, ketika kita melihat fenomena orang-orang yang menghafal Al-Qur’an hanya untuk mengejar gelar, jabatan, atau karena keterpaksaan tanpa ketulusan hati, kita sebenarnya harus prihatin. Sebab, prioritas utama seorang penghafal Al-Qur’an adalah niat yang benar, tujuan yang lurus, serta komitmen yang konsisten. Tanpa itu, hafalan hanyalah sekadar formalitas, sementara nilai spiritual dan manfaat hakiki dari Al-Qur’an menjadi hilang.
Pada akhirnya, penghafal Al-Qur’an yang sesungguhnya bukanlah mereka yang merekam ayat-ayat secara mekanis, melainkan mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai teman hidup, siraman jiwa, dan sumber inspirasi dalam setiap langkah kehidupan. Mereka mengayunkan perjalanan spiritual yang nyata, bukan hanya kesaksian angka dan gelar semu. Dengan pemahaman ini, masyarakat dapat lebih bijak menilai dan mengapresiasi seorang penghafal Al-Qur’an yang mutqin, serta mendorong lahirnya generasi penghafal yang tidak hanya hafal, tetapi juga benar-benar mengamalkan dan menghidupkan Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan.
*Karya tulis peserta workshop penulisan kreatif dan jurnalistik jejaring duniasantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, 21-22 Agustus 2025.
