Lalu, apa kaitannya bagi generasi muda hari ini?
Banyak orang mengira ajaran Rabiah mengajak manusia menjauhi cinta kepada sesama. Padahal tidak demikian. Rabiah hanya mengingatkan bahwa cinta kepada manusia akan mudah berubah menjadi luka ketika dijadikan pusat kehidupan. Manusia terbatas, berubah, bahkan bisa mengecewakan. Sementara cinta kepada Allah adalah perasaan yang tidak pernah goyah.

Kenyataannya, di era media sosial sekarang romansa justru sering menjadi panggung pencarian validasi. Hubungan dinilai dari seberapa romantis tampilannya, bukan dari seberapa sehat isinya. Akibatnya, ketika hubungan berakhir, sebagian orang merasa kehilangan arah, seolah hidup ikut runtuh bersama perpisahan itu.
Di sinilah Rabiah menawarkan sudut pandang yang berbeda. Cinta kepada manusia tetap indah, bahkan dianjurkan dalam Islam melalui ikatan yang halal. Namun, cinta itu seharusnya mengalir dari hati yang telah terisi penuh oleh cinta kepada Allah, bukan menggantikan posisi-Nya.
