MENGHAYATI MASA LALU
Berjingkat kakimu keluar dari kubangan
Yang dulu mensucikan itu, sembari
Kau siapkan diri keluar dari kata
Yang tersembunyi dalam sebuah

Amsal. Dan, keyakinan (barangkali)
Masih terpancang padamu. Di bekas
Jantung bahasa yang dulu kau takzimi
Seperti keringat selepas lelahmu dulu.
Sewaktu itu kau gulungkan demikian
Riwayat dalam bekal sebuah perjalanan.
Katamu ini kemungkinan akan perlu.
Nampaknya, kini aku-kau menjadi kita:
Saling menjelma dari harapan—sedari
Yang samar. Dan memulai berani
Menafsir sesuatu yang liar sekalipun.
Surabaya, 2026.
INDEKS DUKACITA
Barangkali sedikit catatan yang dikumpulkan
Setiap sunyi hatimu dalam sebuah nyanyian.
Kepada garis waktu yang melingkari lehermu
Ruh doa itu dengan sayup memanggilmu pulang.
Serupa pendar wangi yang mendatangimu di
Suatu malam, Ia mendatangkan sekilas cahaya.
Menatapmu dari kilau lanskap yang dulunya
Terbangun dari keping-keping silau silam waktu.
Di dekat sekitar urat gahar hidupmu adalah
Terurai pijak dan jejak yang terbangun dari sirah.
Ketika kau menancapkan sebilah keyakinan
Di atas tanah yang membesarkan keraguanmu.
Sebentuk penerimaan semacam bahasa tabah
Yang menumbuhkan bebungaan jauh di luar musim.
Lalu semakin perjalanan ini, semua menyerupai
Rampung dalam dukacita di ruang diri yang lain.
Dirimu, mungkin gemetar dari sebuah kehendak
Segala nama yang diturunkan sebagai wahyu.
Ada desir yang melubangi suwung dalam dirimu
Mengubur setiap kepedihan dan kesedihan itu.
Sementara, cinta ini setia mencatat setiap gigil
Dan menaklukan dosa pada dada yang retak.
Surabaya, 2026.
KAU NAMAKAN INI SEBUAH SYUKUR
—Khariri Firdaus
Silam waktu adalah jendela yang
