Di zaman sekarang, saat cinta sering diukur dari seberapa cepat pesan dibalas, seberapa sering seseorang mengunggah foto bersama kekasih, atau seberapa lama hubungan mampu bertahan, kisah Rabiah al-Adawiyah datang membawa pertanyaan yang menggetarkan: mungkinkah cinta mencapai puncaknya tanpa menjadikan manusia sebagai tujuan?
Nama Rabiah tidak pernah lepas dari pembahasan tentang cinta kepada ilahi. Perempuan sufi asal Basrah itu bukan dikenal karena kisah romantis bersama seorang kekasih, melainkan karena keberaniannya mengubah makna cinta itu sendiri. Baginya, mencintai Allah bukanlah jalan untuk memperoleh surga atau menghindari neraka. Cinta adalah tujuan, bukan alat transaksi.

Inilah salah satu ungkapannya yang masyhur dan seolah menjadi manifestasi bagi seluruh pencari Tuhan : “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, haramkanlah surga bagiku. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu semata, janganlah Engkau palingkan aku dari keindahan-Mu.”
Kalimat itu terdengar indah, namun menyimpan maksud besar. Di saat manusia sering mencintai karena berharap balasan, Rabiah justru memperkenalkan cinta yang bebas dari pengharapan itu sendiri.
