Di zaman sekarang, saat cinta sering diukur dari seberapa cepat pesan dibalas, seberapa sering seseorang mengunggah foto bersama kekasih, atau seberapa lama hubungan mampu bertahan, kisah Rabiah al-Adawiyah datang membawa pertanyaan yang menggetarkan: mungkinkah cinta mencapai puncaknya tanpa menjadikan manusia sebagai tujuan?
Nama Rabiah tidak pernah lepas dari pembahasan tentang cinta kepada ilahi. Perempuan sufi asal Basrah itu bukan dikenal karena kisah romantis bersama seorang kekasih, melainkan karena keberaniannya mengubah makna cinta itu sendiri. Baginya, mencintai Allah bukanlah jalan untuk memperoleh surga atau menghindari neraka. Cinta adalah tujuan, bukan alat transaksi.

Inilah salah satu ungkapannya yang masyhur dan seolah menjadi manifestasi bagi seluruh pencari Tuhan : “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, haramkanlah surga bagiku. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu semata, janganlah Engkau palingkan aku dari keindahan-Mu.”
Kalimat itu terdengar indah, namun menyimpan maksud besar. Di saat manusia sering mencintai karena berharap balasan, Rabiah justru memperkenalkan cinta yang bebas dari pengharapan itu sendiri.
Lalu, apa kaitannya bagi generasi muda hari ini?
Banyak orang mengira ajaran Rabiah mengajak manusia menjauhi cinta kepada sesama. Padahal tidak demikian. Rabiah hanya mengingatkan bahwa cinta kepada manusia akan mudah berubah menjadi luka ketika dijadikan pusat kehidupan. Manusia terbatas, berubah, bahkan bisa mengecewakan. Sementara cinta kepada Allah adalah perasaan yang tidak pernah goyah.
Kenyataannya, di era media sosial sekarang romansa justru sering menjadi panggung pencarian validasi. Hubungan dinilai dari seberapa romantis tampilannya, bukan dari seberapa sehat isinya. Akibatnya, ketika hubungan berakhir, sebagian orang merasa kehilangan arah, seolah hidup ikut runtuh bersama perpisahan itu.
Di sinilah Rabiah menawarkan sudut pandang yang berbeda. Cinta kepada manusia tetap indah, bahkan dianjurkan dalam Islam melalui ikatan yang halal. Namun, cinta itu seharusnya mengalir dari hati yang telah terisi penuh oleh cinta kepada Allah, bukan menggantikan posisi-Nya.
Romansa ala Rabiah bukanlah kisah tentang menolak jatuh cinta. Ini adalah kisah tentang menjaga agar hati tidak menjadikan makhluk sebagai kiblat. Sebab, ketika Allah menjadi cinta pertama, setiap cinta setelahnya akan menemukan tempat yang semestinya.
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Rabiah kepada kita. Bahwa cinta paling dewasa bukanlah cinta yang paling gaduh, melainkan cinta yang paling menenangkan. Cinta yang tidak menuntut untuk dimiliki, tetapi mengajarkan cara mengikhlaskan. Cinta yang tidak membuat manusia lupa kepada Tuhan, justru semakin mendekatkannya.
Di dunia yang semakin bising oleh kisah percintaan, suara Rabiah tetap terdengar lirih namun tajam. Ia mengingatkan bahwa romansa paling agung bukanlah ketika dua manusia saling mencintai, melainkan ketika seorang hamba berhasil menjadikan cintanya kepada Allah sebagai cahaya yang menerangi seluruh cinta yang lain.
