Mengutip adagium Gus Dur yang sangat membumi, “Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah mahakuasa.” Mungkin ini saatnya kita berhenti membela ‘kesalehan kita yang palsu’ dengan memaksa diri untuk tampil sempurna di masjid, lalu mulai berani jujur dengan keterbatasan diri di hadapan Tuhan.
Jadi, janganlah terburu-buru menghakimi saf yang maju itu. Jangan pula menuduh mereka yang tidak lagi muncul di masjid sebagai orang yang sudah ‘gugur’ sebelum perang selesai. Mungkin mereka hanya sedang beristirahat. Mungkin mereka sedang menemukan cara baru untuk berkomunikasi dengan Penciptanya di sudut-sudut rumah yang lebih sunyi. Barangkali, saf yang maju itu justru adalah sebuah pengingat agar kita tidak terjebak dalam formalitas ritual yang kering dan mulai belajar melihat Tuhan dalam kemanusiaan kita yang rapuh.

Barangkali benar pesan Rumi, “Tuhan telah memasang tangga di depan kita, kita harus mendakinya, setapak demi setapak.” Tapi di akhir Ramadan ini, banyak dari kita yang justru memilih selonjoran di teras karena kehabisan napas. Saf yang maju adalah bukti bahwa kita bukan pahlawan spiritual yang tanpa lelah. Kita hanya pejalan kaki yang megap-megap, yang sadar bahwa mendaki itu berat. Dan berhenti sejenak untuk mengakui kelelahan adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa di tengah riuhnya sandiwara kesalehan kita.
Tapi bukankah beribadah itu harus dipaksakan dulu di awal? seperti ujar-ujar “terbentur-terbentur, maka akan terbentuk”. Wallau A’lam.
