Ramadan, Masjid, dan Formalitas Ritual

Dalam teropong psikologi, kita mengenal istial ego depletion. Gampangnya, manusia memiliki ‘bahan bakar’ dalam keinginannya. Genap 30 hari menahan lapar dan haus, ditempa rutinitas harian yang sama porsinya seperti di luar Ramadan, tentu saja cadangan energi mental itu terkuras. Barangkali, orang-orang berhenti ke masjid bukan karena tiba-tiba mereka tidak lagi tahu caranya shalat, tapi karena mereka sudah sampai pada titik di mana fisik dan mental perlu bernegosiasi.

Seperti yang pernah ditulis Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus, “perjuangan menuju puncak itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mungkin, perjuangan untuk sampai ke masjid di akhir Ramadan itu, meski akhirnya gagal atau harus berhenti di tengah jalan, sudah cukup untuk mengisi ruang spiritual kita atau setidaknya, cukup untuk menyadari bahwa kita hanyalah manusia biasa, bukan malaikat yang tidak kenal lapar dan haus.

Psikolog asal Amerika Serikat, Gordon Allport pernah membedah orientasi keberagamaan kita. Baginya, ada dua motivasi manusia dalam melakukan ritual keagamaan. Pertama, motivasi intrinsik, yakni niat yang benar-benar berasal dari kedalaman jiwa. Sementara yang kedua eksentrik, yakni kita lebih menggantungkan diri pada dukungan lingkungan sekitar. Jadi, ketika ‘setrum’ kolektif telah memudar, maka orang yang memiliki orientasi nomor dua akan undur diri. Tentu ini bukan soal kesempurnaan, ini adalah soal manusia yang berhadapan dengan realitasnya sendiri. Kita hidup di bayang-bayang kesempurnaan tapi lupa kalau kita adalah makhluk yang terbatas.

Sering saya membayangkan, seandainya masjid bisa bicara, mungkin ia akan tertawa melihat bagaimana kita memperlakukan saf. Di awal, kita berebut posisi di depan, seolah-olah derajat kesalehan ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan dinding depan. Lalu, ketika bulan menua, kita mulai mundur. Bukan karena kurang saleh, tapi karena sadar bahwa Tuhan tidak hanya ada di saf depan. Tuhan juga hadir dalam keringat orang yang lelah bekerja, di dalam kantuk orang yang berjuang di shift ketiga, dan di dalam kejujuran seseorang yang mengakui bahwa dirinya tidak sanggup lagi memaksakan diri.

Tinggalkan Balasan