Rara terus berjalan sampai ia menyadari sesuatu: jalan ini tidak pernah ia lewati sampai ujung. Selama berbulan-bulan, ia selalu berbalik di titik yang sama, di dekat pohon trembesi ketiga, tempat ia bertemu anak kecil itu. Ia tidak pernah melanjutkan lebih jauh. Mungkin karena takut. Mungkin karena merasa tidak perlu.
Malam ini, ia melanjutkan.

Jalan itu berkelok, menurun, lalu mendatar. Sawah di kiri-kanan berganti dengan semak-semak liar dan pohon-pohon yang semakin rapat. Suara jangkrik semakin keras, seperti orkestra yang memainkan simfoni malam. Dan kemudian, setelah berjalan entah berapa lama, Rara sampai di ujung jalan.
Di hadapannya terbentang sebuah danau kecil. Airnya tenang, hitam, memantulkan langit yang mulai bersih dari awan. Di permukaan air itu, bulan sabit tercetak sempurna, seperti goresan kuas pada kanvas basah. Tidak ada suara. Bahkan jangkrik pun terdiam di sini. Hanya kesunyian yang begitu dalam sampai Rara bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Ia mendekat ke tepi danau. Airnya begitu jernih sampai ia bisa melihat dasarnya yang berpasir, dihuni batu-batu kecil yang licin. Dan kemudian ia melihatnya, pantulan dirinya sendiri di permukaan air.
Tapi ada yang salah.
Pantulan itu tidak mengikuti gerakannya. Ketika Rara mengangkat tangan, pantulan itu tetap diam. Ketika Rara memiringkan kepala, pantulan itu tetap menatap lurus ke depan. Dan yang paling aneh: pantulan itu terlihat lebih tenang. Matanya tidak menyimpan kegelisahan yang selama ini Rara rasakan. Wajahnya lebih tua, tapi juga lebih damai, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan dirinya sendiri.
Rara berlutut di tepi danau. Air membasahi lututnya, dingin dan tajam. Ia menatap pantulan itu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak merasa perlu mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap. Dan dalam keheningan itu, sebuah kesadaran perlahan muncul, bukan seperti kilat yang menyambar tiba-tiba, melainkan seperti fajar yang pelan-pelan mengusir gelap.
Selama ini ia tidak sedang mencari tujuan hidup. Ia sedang mencari keberanian untuk menerima bahwa hidup memang tidak memberikan jawaban yang utuh.
Air mata jatuh dari matanya, membuat riak-riak kecil di permukaan danau. Pantulan itu tidak menghilang. Ia tetap di sana, menatap Rara dengan kelembutan yang tidak bisa dijelaskan, seperti seorang ibu yang menatap anaknya, seperti seseorang yang sudah menunggu sejak lama dan akhirnya didatangi juga.
Fajar mulai merekah di ufuk timur. Warna-warna kembali pada dunia, jingga tipis, ungu pucat, biru yang masih malu-malu. Rara masih duduk di tepi danau, basah kuyup, kedinginan, tapi ada sesuatu yang hangat di dalam dadanya. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Pantulannya mulai memudar seiring cahaya yang semakin terang. Perlahan, sangat perlahan, seperti seseorang yang pamit tanpa mengucapkan selamat tinggal. Rara menutup buku tanpa judul itu, ia bahkan tidak ingat kapan membukanya, dan meletakkannya di tepi danau, di atas batu yang licin.
Ia berdiri. Lututnya gemetar, kaku karena terlalu lama tertekuk. Ketika ia berbalik untuk pulang, jalan yang tadi ia lalui sudah tertutup kabut. Tebal, putih, seperti susu yang tumpah ke bumi. Seolah-olah jalan itu tidak pernah ada. Seolah-olah ia tidak perlu kembali dengan cara yang sama.
Rara tersenyum. Senyum yang kecil, nyaris tidak terlihat. Tapi di dalam senyum itu, ada sesuatu yang telah bergeser.
Jalan ini tidak berubah. Kitalah yang berubah. Dan mungkin, sejak awal, jalan ini memang tidak berada di luar sana, melainkan di dalam diri kita sendiri.
Ia melangkah masuk ke dalam kabut, dan langkahnya terasa lebih ringan. Bukan karena ia telah menemukan jawaban, melainkan karena ia sudah tidak lagi takut pada pertanyaan.
Toko buku Aksara Senja masih di sana keesokan harinya. Masih dengan debu di sudut-sudutnya, masih dengan aroma kertas lapuk yang bercampur kelembapan. Tapi ketika Rara membuka pintu pagi itu, sesuatu terasa berbeda. Mungkin cahaya yang masuk lebih banyak. Mungkin suara hujan yang mengetuk jendela terdengar lebih bersahabat.
Ia menyusun buku-buku seperti biasa. Tangannya menyentuh punggung-punggung buku yang sudah dikenalnya, tapi kali ini ia tidak mencari apa-apa. Ia hanya menyentuh, hanya merasakan tekstur kertas dan kain di bawah ujung jarinya.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Gerimis yang lembut, yang membasahi jalanan tanpa membuat siapa pun marah. Rara berdiri di ambang pintu, memandang jalan yang basah, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa perlu pergi ke mana-mana.
Hidup terus berjalan, bahkan ketika semua jawaban telah hilang.
Ia menarik napas dalam-dalam. Udara pagi itu terasa manis, seperti buah yang baru saja masak. Di kejauhan, suara kereta terdengar lagi, melenguh panjang, mengabarkan bahwa dunia masih berputar dan waktu masih mengalir, meski Rara sudah tidak lagi menghitungnya.
Ia menutup mata, dan di dalam kegelapan itu ia melihat pantulannya sendiri di permukaan danau. Pantulan yang lebih tenang, lebih tua, lebih damai. Pantulan yang tidak lagi bertanya, tidak lagi mengejar, tidak lagi takut.
Ketika ia membuka mata, hujan sudah reda. Langit mulai cerah, meski masih menyisakan awan-awan kelabu di sudutnya. Rara kembali ke dalam toko, mengambil lap, dan mulai membersihkan debu dari rak-rak buku, dengan gerakan yang lebih sabar, lebih penuh, lebih sadar.
Mungkin kita tidak pernah benar-benar sampai. Tapi selama kita masih berjalan dengan mata terbuka, selama kita masih bisa melihat langit dan merasakan hujan, mungkin itulah yang disebut hidup.
Dan di kejauhan, di tepi danau yang sunyi, sebuah buku tanpa judul tergeletak di atas batu. Halaman-halamannya terbuka tertiup angin, kosong, putih, siap ditulisi oleh siapa pun yang berani memulai perjalanannya sendiri.
Sumber ilustrasi: ig.
