Rara memandang gambar itu lama. Garis di tanah mulai memudar tertimpa gerimis, dan dalam beberapa saat, ia akan hilang sepenuhnya.
“Kenapa kau menggambarnya di tanah?” tanya Rara. “Ia akan hilang.”

Lelaki tua itu berdiri, menepuk-nepuk celananya yang kumal. “Justru karena ia akan hilang, ia menjadi berharga. Bukankah begitu juga dengan hidup?”
Ia berjalan pergi, langkahnya gontai namun pasti. Rara ingin mengikutinya, tetapi tubuhnya terpaku. Ketika ia akhirnya bisa bergerak, lelaki tua itu sudah tidak terlihat. Hanya ada jalan yang basah, langit yang mulai gelap, dan suara katak dari sawah yang memanggil-manggil malam.
Malam itu Rara tidak bisa tidur. Ia duduk di kamarnya yang kecil, di atas kasur yang sudah reyot, bersama suara hujan yang kembali turun di luar jendela. Buku tanpa judul itu tergeletak di meja, tertutup. Ia belum berani membuka halaman berikutnya.
Apa yang paling kita takuti bukanlah ketidaktahuan, melainkan kemungkinan bahwa jawaban yang kita cari tidak pernah ada.
Ia teringat ibunya. Perempuan yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di ranjang yang sama, dengan tubuh yang semakin ringan karena penyakit yang menggerogoti. Ibunya tidak pernah mengeluh. Setiap pagi ia hanya memandang jendela, ke arah pohon mangga di halaman, dan tersenyum pada sesuatu yang tidak bisa Rara lihat.
“Kau tahu, Ra,” kata ibunya suatu hari, suaranya nyaris seperti bisikan, “hidup ini seperti hujan. Ia datang, membasahi, lalu pergi. Dan tanah tidak pernah bertanya kenapa hujan harus berhenti.”
Rara tidak mengerti saat itu. Ia masih terlalu sibuk dengan kemarahan dan kesedihan. Tapi malam ini, di tengah hujan yang mengetuk-ngetuk jendela seperti ingin masuk, ia mulai mengerti sedikit.
Waktu tidak benar-benar pergi. Kitalah yang berlalu melewatinya, seperti air yang mengalir di sungai yang sama namun tak pernah menjadi air yang sama.
Pertemuan ketiga terjadi pada senja yang paling sunyi. Langit berwarna kelabu merata, tanpa gradasi, tanpa keindahan, hanya hamparan warna yang datar seperti kanvas yang belum sempat dilukis. Rara berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah ada beban tak terlihat yang mengikat kakinya.
Di pertengahan jalan, dekat jembatan kecil yang melintasi saluran irigasi, seorang perempuan berdiri membelakanginya. Rambutnya panjang, tergerai, basah oleh sisa-sisa gerimis. Ketika Rara mendekat, perempuan itu berbalik, dan Rara menahan napas.
Perempuan itu tidak memiliki bayangan.
Tanah di sekitarnya basah dan memantulkan cahaya senja yang redup, tapi di tempat perempuan itu berdiri, tidak ada apa-apa. Hanya permukaan tanah yang kosong, seolah-olah ia tidak benar-benar ada.
“Kau takut?” tanya perempuan itu. Suaranya lembut, seperti angin yang menyelinap di celah-celah jendela.
“Aku tidak tahu,” jawab Rara. Kejujuran yang sama yang ia berikan pada lelaki tua itu. Mungkin karena di jalan ini, di antara sawah dan trembesi, kebohongan terasa sia-sia.
“Kebanyakan orang takut padaku,” kata perempuan itu. “Mereka pikir aku adalah pertanda buruk. Padahal aku hanyalah cermin. Aku menunjukkan apa yang sudah hilang dari diri mereka tanpa mereka sadari.”
“Apa itu?”
“Kemampuan untuk merasa hidup.” Perempuan itu melangkah mendekat, dan Rara bisa melihat wajahnya sekarang, wajah yang biasa saja, tidak cantik tidak buruk, tidak tua tidak muda. Wajah yang bisa jadi milik siapa saja. “Kehilangan terbesar manusia bukanlah kehilangan orang lain. Bukan kehilangan harta, bukan kehilangan masa muda. Kehilangan terbesar adalah ketika kau masih bernapas, masih berjalan, masih makan dan minum, tapi kau sudah tidak bisa merasakan apa-apa.”
Rara merasakan sesuatu yang dingin menjalari tulang punggungnya. Bukan karena takut, melainkan karena kata-kata itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia pendam, kekosongan yang ia isi dengan rutinitas, dengan berjalan, dengan menyusun buku-buku yang tidak dibaca siapa pun.
“Bagaimana caranya mendapatkannya kembali?” tanya Rara. Suaranya bergetar.
Perempuan tanpa bayangan itu tersenyum. Senyum yang anehnya terasa hangat, seperti teh jahe di musim hujan. “Kau sudah mulai mencarinya. Sejak kau mulai berjalan. Sejak kau mulai bertanya. Sejak kau berani berhenti dan melihat langit.”
Ia berbalik dan berjalan ke arah sawah. Langkahnya tidak meninggalkan jejak di tanah basah. Rara ingin memanggilnya, ingin bertanya lebih banyak, tapi ia tahu, seperti dua pertemuan sebelumnya, bahwa percakapan ini harus berakhir di sini. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya. Ada hal-hal yang harus dialami sendiri.
Malam itu hujan turun lebih deras dari biasanya. Bukan hujan yang lembut dan puitis, melainkan hujan yang marah, yang menghantam genting dengan brutal, yang membuat pohon-pohon bergoyang seperti orang kesakitan. Rara tidak bisa tidur. Buku tanpa judul itu masih di meja, masih tertutup.
Tepat pukul tiga dini hari, ketika hujan mulai reda, sesuatu mendorongnya untuk bangkit. Ia mengambil buku itu, mengenakan jas hujan lusuhnya, dan keluar rumah. Jalanan kosong. Kota kecil itu tidur dalam pelukan lembap, hanya ditemani lampu-lampu jalan yang temaram.
Ada saatnya manusia harus berjalan bukan karena ingin sampai, melainkan karena perjalanan itu sendiri yang memanggilnya.
Ia berjalan menyusuri jalan yang sama, jalan di pinggir sawah, di bawah trembesi, melewati jembatan kecil. Tapi malam ini jalannya terasa berbeda. Lebih panjang. Lebih sunyi. Lebih menunggu.
