Di tengah pandemi Covid-19 yang membuat babak belur nyaris semua orang, rasisme yang diwarisi sejak jaman kolonial kembali muncul. Atau bisa jadi, rasisme itu tidak pernah hilang karena selalu dipelihara dalam ingatan bawah sadar sebagai akibat dari gagalnya upaya dekolonisasi. Sasaran kemarahan akan mewabahnya Covid- 19 beberapa dialamatkan pada orang-orang keturunan Tionghoa yang bahkan tidak tahu apa-apa.
Padahal, beragam berita mengenai orang-orang keturunan Tionghoa yang tetap membuka toko mereka dengan harga wajar dan menolak pembeli yang melakukan panic buying juga membanjiri lini masa media sosial. Begitupun, berita-berita tentang donasi-donasi bagi masyarakat terdampak Covid-19 yang mereka inisiasi juga berhamburan di media sosial. Tetapi, kebencian kadang menutup segala-gala, bahkan akal sehat dan rasa keadilan.

Rasisme ini tentu saja tidak bisa dibiarkan karena bisa berkembang menjadi konflik rasial yang merusak dan mencabik kebhinnekaan. Sebagai bagian dari penganut agama dengan jumlah terbesar di Indonesia yang belajar Islam dengan merujuk pada sosok Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan cinta kasih, perkara rasisme bukanlah sebuah hal yang bisa diterima apalagi dinormalisasi.
Ada banyak sekali hadist nabi yang meriwayatkan narasi cinta kasih sebagai basis kehidupan beragama salah satunya yang kurang lebih berbunyi, “Cintailah makhluk Tuhan yang ada di Bumi, maka para penduduk langit akan mencintaimu.”
