Royyan Julian dan Meta Maduraisme

Membincang Madura, siapa pun kerap dihadapkan pada stereotip lama yang seolah menggeneralisasi identitas Madura secara utuh: carok, sate, toko 24 jam, serta citra Islam yang dianggap tunggal dan homogen.

Stereotip-stereotip tersebut menjadikan Madura sebagai konsep yang beku dan final, seakan tidak memiliki ruang bagi kontradiksi dan perubahan. Dari kegamangan inilah kemudian lahir apa yang dapat disebut sebagai meta-maduraisme Royyan Julian—sebuah upaya kritis untuk menempatkan Madura bukan sebagai identitas yang telah selesai, melainkan sebagai ruang hidup yang  dapat diolah, diopyok, dan ditafsir ulang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Melalui bukunya yang berjudul Cinta Ditolak Gapol Bertindak, Royyan menghadirkan eksperimen yang cukup berani. Melalui buku ini, Madura dan orang-orangnya, yang selama ini dilekatkan pada romantisasi tertentu, dibongkar habis-habisan hingga menjadi ruang hidup yang mentah. Dari situ, Royyan menawarkan pandangan tentang Madura sebagai entitas yang kompleks, penuh kontradiksi, dan jauh dari kesan tunggal yang kerap dirayakan dalam wacana populer.

Salah satu esai yang menjadi judul buku ini memperlihatkan keberanian Royyan dalam mengungkap sisi Madura yang jarang dibicarakan. Ia secara terbuka mengurai keberadaan apa yang ia sebut sebagai “produk manusia unfaedah”, yang kemudian dikenal dengan istilah jamet, cukup banyak dijumpai di Madura. Kelompok ini digambarkan memiliki ciri khas tertentu: penggunaan kawat gigi sebagai simbol gaya, modifikasi motor demi kesan hedonistik, serta pemilihan nama-nama bernuansa ke-jamet-an agar tampak bergengsi di arena kelab malam (hlm. 105).

Melalui penggambaran tersebut, Royyan menunjukkan bahwa di balik romantisasi Madura yang selama ini dirayakan, tersimpan kompleksitas sosial dan kegamangan identitas yang kerap luput dari pembacaan. Pada titik inilah meta-maduraisme Royyan bekerja—bukan untuk menegasikan Madura, melainkan untuk membebaskannya dari citra tunggal dan membuka ruang tafsir yang lebih jujur.

Kritik Royyan terhadap kebudayaan Madura juga dapat dibaca melalui persoalan kreativitas musik. Ia secara implisit menyinggung ketakpahaman akan hak cipta dan lemahnya tradisi penciptaan dalam musik populer Madura. Sebagian besar produksi musik lokal berhenti pada praktik menjiplak lagu-lagu dan sekadar mengganti liriknya ke dalam bahasa Madura (hlm:43). Praktik ini mencerminkan kemiskinan imajinasi musikal sekaligus ketergantungan pada bentuk-bentuk jadi, tanpa keberanian mencipta komposisi, struktur, dan identitas bunyi yang lahir dari pengalaman kultural Madura sendiri. Musik, alih-alih menjadi ruang ekspresi kreatif, justru terjebak dalam pengulangan yang dianggap wajar.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan