Kritik Royyan terhadap kebudayaan Madura juga dapat dibaca melalui persoalan kreativitas musik. Ia secara implisit menyinggung ketakpahaman akan hak cipta dan lemahnya tradisi penciptaan dalam musik populer Madura. Sebagian besar produksi musik lokal berhenti pada praktik menjiplak lagu-lagu dan sekadar mengganti liriknya ke dalam bahasa Madura (hlm:43). Praktik ini mencerminkan kemiskinan imajinasi musikal sekaligus ketergantungan pada bentuk-bentuk jadi, tanpa keberanian mencipta komposisi, struktur, dan identitas bunyi yang lahir dari pengalaman kultural Madura sendiri. Musik, alih-alih menjadi ruang ekspresi kreatif, justru terjebak dalam pengulangan yang dianggap wajar.
Padahal, Madura sesungguhnya memiliki lanskap bunyi yang cukup untuk menjadi sumber penciptaan. Komunitas musik lorjhu’nya Badrus Zeman, eksplorasi bunyi dalam La Ngetniknya Rifan Khoridi, hingga musik warga tabunnya Abyan Farazdaq menawarkan kemungkinan estetika yang otentik dan berakar kuat pada pengalaman hidup orang Madura. Ketiga bentuk musikal ini bukan sekadar peninggalan, melainkan sumber kreatif yang memungkinkan lahirnya komposisi baru tanpa harus bergantung pada praktik penjiblakan. Dengan demikian, kemandekan kreativitas musik Madura bukan disebabkan oleh ketiadaan sumber, melainkan oleh ketidakberanian untuk membaca, mengolah, dan menafsir ulang kekayaan bunyi yang telah tersedia.

Menariknya, di tengah kemacetan kreativitas dan pembacaan budaya Madura yang kerap maskulin, terdapat fakta yang sering luput dari sorotan: keberadaan empu perempuan di Madura bernama Ika Arista (hlm:139). Seorang perempuan Madura yang bergiat secara serius dalam dunia perkerisan—sebuah ranah yang selama ini dilekatkan secara eksklusif pada laki-laki. Kehadiran empu perempuan ini menunjukkan bahwa tradisi Madura sesungguhnya menyimpan kemungkinan-kemungkinan progresif yang kerap tertutup oleh cara baca patriarkal.
Dalam kerangka meta-maduraisme Royyan, keberadaan empu perempuan ini penting dibaca bukan sebagai anomali, melainkan sebagai celah tafsir. Ia menegaskan bahwa Madura tidak sesederhana narasi tentang tradisi yang kaku dan tunggal, melainkan ruang budaya yang sarat kontradiksi, keberagaman, dan potensi pembaruan dari dalam. Tradisi, dalam hal ini, tidak selalu bergerak mundur; ia dapat dinegosiasikan, ditafsir ulang, bahkan dilampaui oleh subjek-subjek yang selama ini dipinggirkan.
Tidak berhenti pada kritik kultural, Royyan juga menyinggung persoalan yang lebih struktural: kemiskinan pengetahuan sejarah di kalangan orang Madura sendiri. Salah satu indikasi yang ia soroti adalah absennya museum di Madura yang benar-benar memenuhi standar sebagai ruang arsip, edukasi, dan perawatan ingatan kolektif. Sejarah Madura, alih-alih dirawat secara institusional, lebih sering hidup sebagai cerita lisan, mitos, atau romantisasi simbolik yang kerap tercerabut dari konteksnya.(hlm:25)
