Sains dan Agama sebagai Sarana Menuju Dunia Luar

Jadi, hubungan antara pengetahuan dan ilmu sebenarnya sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Namun, pengetahuan tidak akan lestari apabila tidak ada mesin keilmuan yang dapat mengolahnya. Sebaliknya, ilmu tidak akan bergerak secara dinamis, jika tidak ada data-data baru yang menunjangnya.

Pada tahap yang lebih dalam lagi, seseorang akan beranjak pada dimensi yang lebih khusus, dimensi ini dinamakan ma’rifat. Ma’rifat akan ditempati oleh seseorang apabila telah berhasil mengenali, memahami, dan menguasai komponen-komponen data serta keilmuan yang ia tekuni.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Posisi ma’rifat seyogyanya kita maknai dengan sebuah ruang pemahaman terhadap sifat-sifat yang dimiliki suatu entitas/objek tertentu yang menunjukkan karakternya. Sederhananya, kita misalkan dengan batuk/flu. Seorang dokter yang sudah memahami betul karakter dan sifat dari flu tersebut, akan sangat hafal bagaimana mengobati atau mendiagnosa saat menyuguhkan apa dan berapa lama obat yang akan dikonsumsi oleh pasiennya.

Sebagaimana dalam kata خلق yang berarti menciptakan, mempunyai idiom lanjut berupa أخلاق. Rangkaian ini menerangkan bahwa setiap yang diciptakan (مخلوق) dari Sang Pencipta (خالق) pasti disertai dengan sifat yang bersanding dengannya. Ma’rifat di sini diartikan dimensi yang sudah adanya kontak kesepahaman antara sifat hierarki dari suatu objek dengan manusia sebagai anugerah yang diberikan oleh Allah AWT.

Sekarang, penulis mengajak untuk mengarungi makna yang terkandung dalam istilah ilmu dan pegetahuan melalui kacamata Emha Ainun Nadjib. Dari artikel tersebut, kita bisa mengambil poin pokok bahwa ilmu dan pengetahuan layaknya data dengan software pada gawai. Data akan menjadi usang apabila tidak dikelola dengan baik oleh software, demikian juga software akan tidak berguna bila tidak ada data yang diolahnya.

Ilmu dan pengetahuan tidak akan lepas dari apa yang dinamakan dengan akal. Manusia dianugerahkan akal oleh Allah sebagai medium untuk memperoleh suatu hal. Jadi bisa dikatakan, akal menjadi salah satu komponen sebelum memeroleh pengetahuan/informasi. Konsep dasar akal itu sendiri dapat membedakan serta memilah yang benar dan salah. Sebagaimana fungsi al-Quran adalah al-Furqan.

تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا ۙ

Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)” (Q.S. al Furqan 25:1).

Dimensi akal hadir untuk melangkah ke dalam dimensi lain, yakni di luar diri manusia. Perpindahan dimensi ini membutuhkan upaya yang lebih untuk dapat membuka gap yang memisahkan antara diri manusia dengan dunia luar. Sejatinya, peralihan tersebut bisa dijembatani dengan sarana yang kuat dan kompeten. Sarana inilah, secara sederhana, dapat ditarik dalam dua kategori umum, yakni murni dengan menggunakan sains (akal) atau agama (iman).

Modal yang dibutuhkan apabila seseorang memilih sains sebagai sarananya adalah kumpulan premis-premis yang sudah diketahui olehnya. Namun sebaliknya, modal yang digunakan bagi orang yang memilih jalan agama adalah dengan premis-premis yang belum diketahuinya.

Tinggalkan Balasan