Sains dan Agama sebagai Sarana Menuju Dunia Luar

Misalnya, pembahasan tentang permulaan awal terjadinya alam semesta. Para Saintis mengemukakan banyak hipotesis yang mewakili argumentasinya mengenai permulaan alam semesta. Mulai dari teori Big Bang oleh Kosmolog asal Belgia, Abbe Georges Lemaitre (1927); teori Keadaan Tetap oleh para ilmuwan Cambridge pada tahun 1948; teori Nebula oleh Emanuel Swedenborg (1734) yang disempurnakan oleh Immanuel Kant (1775); dan teori Bintang Kembar oleh R.A. Lyttleton pada tahun 1930-an. Mereka mendasarkan asumsinya pada premis-premis (pengetahuan/data) yang ia temui melalui observasi keilmuan seperti astronomi dan kosmologi.

Lain halnya dengan sarana agama (dalam hal ini adalah agama Islam). Orang-orang yang menjadikan modal agama sebagai bentuk untuk menyikapi penciptaan alam semesta, akan cenderung yakin (iman) terhadap narasi-narasi yang telah termaktub dalam otoritas teks, yakni al-Quran dan Hadis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hasil yang lahir dari observasi sains akan memunculkan prediksi-prediksi yang bersifat educated. Educated di sini kita maknai dengan yang terukur, berdasar, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam agama, prediksi ini dilabeli dengan sebuah istilah yakni الظن. Akan tetapi, الظن yang mempunyai dalil untuk bisa dibenarkan. Pada sarana agama pun, terdapat istilah qath’iy dan dzanniy. Yaitu, suatu premis yang sudah jelas teksnya (dalam literatur keagamaan pokok) dan premis yang hanya didasarkan melalui asumsi dan hipotesis mendalam (ijtihad).

Akan tetapi, banyak dijumpai premis-premis yang tidak bisa didapatkan sains dalam menjangkau pembahasan teologis tertentu. Ini menandakan bahwa kehadiran akal dengan begitu besar kemungkinan yang dapat ia gemingkan, tidak selalu bisa survive terhadap pembahasan yang di dalam agama bahkan sudah final dijelaskan secara gamblang.

Dalam hal ini, banyak pihak yang menilai bahwa agama tidak selaras dengan konsep logis manusia. Maka dari itu, agama sering diremehkan apabila terjadi diskonjungsi antara akal dengan narasi-narasi yang dilontarkan agama. Namun, perlu kita sadari, fakta itulah yang malah membuat agama dinilai sangat transendental dengan ke-Maha-an dari Tuhan.

Sebagaimana konsep khaliq dan makhluq, wewenang Tuhan dalam menciptakan keterbatasan manusia tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun. Adanya kenyataan akal tidak bisa menjangkau agama, merupakan sebuah bukti kebesaran-Nya. Jadi, fakta tersebut bukan menjadikan agama (kebesaran Tuhan) semakin dikucilkan, namun malah menjadikan agama sangat dijunjung tinggi.

Misalnya adalah tentang kebijaksanaan (wisdom) dan ketenangan. Dalam takaran ilmu, manusia bisa menggunakan psikologi untuk mempelajari dan menganalisa pola ketenangan yang bisa dicapai manusia. Namun, psikologi secara pasti tidak bisa menjamin dan memberi harapan ketenangan tersebut. Agama di sini hadir dengan konsep taqwa dan iman, dengan menyuguhkan dzikr dan wirid agar manusia dinaungi dengan ketenangan tersebut.

Selain itu, terdapat berbagai informasi (pengetahuan/data) yang tidak dapat ditelusuri melalui observasi sains, kita sebut saja konsep tentang malaikat. Mungkin sebagia besar orang meyakini adanya malaikat (angels dalam bahasa Inggris). Namun, informasi mengenai nama dan tugas dari para malaikat tentu hanya bisa diperoleh lewat agama.

Dari narasi agama, kita mengetahui bahwa Malaikat Jibril adalah malaikat penyampai wahyu; Malaikat Izroil adalah malaikat pencabut nyawa, dan lain sebagainya. Informasi tersebut tidak kita peroleh dari analisa sains di laboratorium, akan tetapi agama sudah secara tegas menyampaikan informasi tersebut dalam kitab suci.

Jadi, korelasi antara agama dan akal adalah medium komplementer yang diniscayakan untuk selalu bersama. Apabila ada dominasi besar antara salah satu dari keduanya, maka dikhawatirkan akan terlalu fanatik terhadap suatu hal, yang dapat menjerumuskan manusia dalam kejumudan dalam memperoleh suatu informasi. Bijaknya, kita dapat menempatkan akal sebagai sarana untuk mendekatkan dan mengenal lebih dalam mengenai kebesaran Tuhan.

Tinggalkan Balasan