Santri Lokal, Dunia Global

Di tengah arus globalisasi yang bergerak cepat, santri acap diposisikan sebagai subjek yang tertinggal, lokal, tradisional, dan jauh dari denyut dunia global. Pesantren dianggap ruang sunyi yang sibuk merawat masa lalu, sementara dunia di luar bergerak dengan bahasa teknologi, pasar, dan geopolitik. Namun anggapan ini terlalu sederhana, bahkan keliru. Sebab justru dari ruang yang disebut “lokal” itulah santri membangun cara unik untuk berjumpa dengan dunia global.

Santri lahir dan dibentuk oleh lokalitas, bahasa daerah, kultur pesantren, tradisi kitab kuning, dan relasi sosial yang akrab. Tetapi lokalitas bukanlah lawan dari globalitas. Ia adalah fondasi. Santri yang kokoh secara lokal justru memiliki pijakan etik dan intelektual untuk membaca dunia yang lebih luas. Global tanpa akar hanya melahirkan kegagapan identitas. Sebaliknya, lokal tanpa keterbukaan berisiko menjadi eksklusif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hari ini dunia global masuk ke pesantren bukan melalui pintu utama, melainkan lewat celah-celah kecil, gawai di balik lemari kitab, diskusi daring, media sosial, dan wacana transnasional yang beredar cepat. Santri tak lagi hanya membaca syarah di kitab klasik, tetapi juga bersinggungan dengan isu Palestina, krisis iklim, kapitalisme digital, hingga perdebatan identitas Muslim global. Pertanyaannya bukan lagi apakah santri terhubung dengan dunia global, melainkan bagaimana mereka memaknainya.

Tinggalkan Balasan