Nama bisa jadi pintu masuk yang paling sederhana untuk membaca kosmologi seseorang —sengaja saya pake istilah kosmologi, biar kelihatan mentereng. Tapi dua kosmologi nama —yang berbeda hampir dalam semua lapisan— bisa bertemu di satu majelis perjumpaan: majelis intelektual. Dan lebih spesifik: pesantren adalah habitus yang mempertemukan mereka: Badrus Shaleh dan Novi Diah Haryanti —please, imajinasi kalian gosah traveling ke mana-mana. Ini memang gosip tentang mereka berdua, tapi gosip yang disengaja sebagai retorika —supaya saya tidak berdosa. Mari kita menggosipkan mereka, insyaallah kita dapat pahala.
Badrus Shaleh pada mulanya lebih dikenal sebagai penyair dengan nama pena Raedu Basha. Badrus Shaleh berarti “bulan purnama seorang yang saleh.” Nama ini kental dengan nuansa santri, seakan lahir dari serambi musala, dengan aroma kitab kuning, lantunan syiir dan nazam. Kini ia benar-benar menjadi kiai dan pengasuh sebuah pesantren desa di Sumenep, Madura. Hidupnya berakar pada tradisi, pada ritme harian santri, pada dunia yang maskulin dan hierarkis, di mana otoritas kiai masih menjadi pusat gravitasi. Ia menulis dari dalam, dengan kosmologi pesantren yang organik, penuh terompah dan nazam.

Di sisi lain, ada Novi Diah Haryanti. Namanya beresonansi dengan kota, modernitas, dan dunia akademik sekuler. Tidak ada “bau santri” dalam nama itu. Ia bukan orang pesantren, tetapi kini menjadi dosen sastra di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Novi membawa perspektif perempuan, urban, dan kritis. Ia menulis dengan perangkat teori Barat, misalnya sosiologi sastra dan sastra bandingan.
Raedu Basha menulis puisi dengan nuansa pesantren yang sangat kental. Dalam antologi puisinya, Hadrah Kiai (2017), Raedu antara lain menulis sajak yang menautkan tradisi pesantren dengan kosmos sastra. Misalnya dalam puisi “Bunga Ibris Kiai Bisri”, ia menulis tentang kitab Ibris, kitab tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa pertama karya KH Bisri Mustofa Rembang:
Mekar bunga tafsir huruf jawi
Semerbak darah suci
Menjalari urat-urat nadi
Pada garis kertas tiap halaman
Tubuh pohonan berdenyutan
Berderak-detak sesegar kabut pagi menyentak
Mengirim roh dan ilham pada semesta
Mengasah ranting tua yang tak jua patah
Malah daun-daun kering memuda kembali dan basah.
Sementara, Novi Diah Haryanti menulis artikel-artikel akademik di berbagai jurnal ilmiah. Ketika di tahun 2017 Raedu menulis puisi dari dalam kosmologi pesantren, Novi sedang membaca luka sejarah dan kasta Bali dari ruang akademik.
Dalam artikelnya “Jejak Kekerasan Pada Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini” (2017), dia ada menulis: “… jejak kekerasan dalam novel Tarian Bumi muncul setelah persinggungan tokoh bapak dengan peristiwa 65. Memiliki bapak anggota PKI membuat Sekar dan Ibunya (Luh Dalem) hidup menderita dan dikucilkan oleh masyarakat. Perampokan dan perkosaan yang dialami ibunya, seolah hukuman yang wajar karena menjadi istri anggota PKI. Itulah yang membuat Sekar kemudian bertekat mengubah nasibnya dengan menikahi laki-laki brahmana. Namun, meski sudah menikah dengan laki-laki brahmana dan menjadi bangsawan Jero Kenanga, hidupnya tetap dalam bayang-bayang kasta sudra di depan Ida Ayu Sagra Pidada (mertuanya).”
Mereka berbeda hampir dalam semua hal. Badrus Shaleh seorang santri, menulis puisi, kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, laki-laki, dan kini jadi kiai. Namanya pun kental dengan nuansa santri agraris perdesaan. Sementara, Novi Diah Haryanti adalah seorang non-pesantren, menulis artikel akademik, kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Indonesia (UI), perempuan, dan kini jadi dosen sastra. Namanya pun kental dengan nuansa kosmopolit perkotaan.
Tapi perbedaan bukanlah halangan untuk berjumpa. Justru dengan berbagai perbedaan, perjumpaan terasa lebih dalam, lebih bermakna. Dan, lebih romantis. Asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga. Bhinneka tunggal ika. Mereka pun berjumpa dalam satu pertemuan yang sangat mesra secara intelektual: meneliti sastra pesantren dengan disiplin akademik. Sastra pesantren adalah belanga bagi asam dan garam kita ini.
