Santri, Pancasila, dan Bahasa Baru Kebangsaan

Santri hari ini belajar kitab di pesantren, tetapi juga belajar melalui YouTube. Mereka berdiskusi di musala, tetapi juga berdiskusi melalui WhatsApp. Mereka mengenal tradisi keilmuan dari kiai, tetapi pada saat yang sama berhadapan dengan jutaan informasi di media sosial.

Pertanyaannya kemudian bukan apakah santri boleh memasuki ruang digital. Mereka sudah berada di dalamnya. Pertanyaannya adalah nilai apa yang dibawa santri ketika memasuki ruang tersebut?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sinilah pemikiran KH Achmad Siddiq menjadi relevan. Kiai Achmad Siddiq mengembangkan konsep trilogi ukhuwah: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Tiga konsep tersebut menghubungkan persaudaraan keislaman dengan persaudaraan kebangsaan dan persaudaraan kemanusiaan.

Dalam konteks kebangsaan, ukhuwah wathaniyah tidak dibatasi oleh agama, suku, atau identitas primordial.

Bagi santri, konsep tersebut memiliki relevansi yang kuat di ruang digital. Menjadi santri tidak berarti hanya memperkuat identitas kelompok sendiri. Kesalehan sosial justru diuji ketika berhadapan dengan orang yang berbeda.

Media sosial sering membuat orang mudah terjebak dalam echo chamber: hanya mendengar suara yang sama dan melihat kelompok lain sebagai lawan.

Sementara, ukhuwah wathaniyah mengingatkan bahwa sebelum berbeda dalam pilihan, organisasi, tradisi, atau keyakinan, seseorang tetap memiliki ikatan sebagai bagian dari bangsa yang sama. Dan, ukhuwah basyariyah memperluas cakrawala tersebut kepada kemanusiaan.

Dengan demikian, tradisi pesantren sebenarnya mempunyai modal etik untuk menghadapi problem ruang digital: adab dalam perbedaan, penghormatan terhadap manusia, dan kemampuan hidup bersama.

Dari Hafalan ke Pengamalan

Di sinilah pemikiran Yudi Latif tentang Pancasila menjadi penting. Dalam Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2011), Pancasila dibaca bukan semata sebagai rumusan normatif, tetapi sebagai hasil perjalanan historis dan pemikiran kebangsaan yang perlu terus diaktualisasikan. Pembacaan Yudi Latif juga menekankan pentingnya persatuan dalam keragaman serta internalisasi nilai kebangsaan.

Lebih jauh, Yudi Latif menempatkan gotong royong sebagai salah satu kunci memahami substansi Pancasila. Gagasan tersebut memiliki akar kuat pada pemikiran Soekarno yang pernah memeras lima sila menjadi Trisila dan kemudian Ekasila: gotong royong. Dokumentasi BPIP juga menempatkan gotong royong, musyawarah, dan mufakat sebagai bagian penting dalam pembacaan Pancasila.

Gagasan ini sesungguhnya sangat dekat dengan kultur pesantren. Kehidupan pesantren mengenal kerja bersama, kepedulian terhadap sesama, penghormatan kepada kiai, kebersamaan dalam kegiatan keagamaan, dan keterlibatan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, mempertemukan Pancasila dengan tradisi pesantren bukanlah sesuatu yang dipaksakan dari luar. Ada titik temu yang dapat dikembangkan.

Tinggalkan Balasan