Santri, Pancasila, dan Bahasa Baru Kebangsaan

Persoalannya adalah bagaimana nilai tersebut dibawa keluar dari lingkungan pesantren. Santri tidak cukup hanya memahami sejarah Pancasila. Mereka perlu belajar bagaimana menghadapi perbedaan mazhab dan organisasi, bagaimana menyikapi perbedaan pilihan sosial, bagaimana melakukan kritik tanpa merendahkan, bagaimana memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, dan bagaimana menggunakan media sosial tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.

Pada titik ini, pendidikan Pancasila dan pendidikan pesantren dapat bertemu dalam satu wilayah: pembentukan etika kehidupan bersama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pancasila tidak perlu dijadikan pesaing bagi nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, sebagaimana ditunjukkan oleh KH Achmad Siddiq, kehidupan kebangsaan dapat menjadi ruang aktualisasi tanggung jawab sosial umat Islam. Pancasila menjadi titik temu kehidupan bersama, sementara agama memberikan sumber nilai moral bagi pemeluknya.

Gus Dur memberikan pelajaran bahwa tradisi harus mampu berdialog dengan perubahan. KH Achmad Siddiq menunjukkan bahwa kesalehan keagamaan dapat berjalan bersama persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan. Yudi Latif mengingatkan bahwa Pancasila membutuhkan internalisasi, bukan sekadar pengulangan. Sementara Soekarno sejak awal menempatkan gotong royong sebagai semangat penting dalam kehidupan kebangsaan.

Keempat pemikiran tersebut bertemu pada satu persoalan: bagaimana nilai menjadi tindakan.

Karena itu, tantangan Pancasila bagi santri hari ini bukan sekadar bagaimana menghafalkan lima sila. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, keadilan, dan gotong royong dalam kehidupan nyata. Termasuk di ruang digital.

Pesantren mempunyai kesempatan besar untuk mengambil bagian dalam pekerjaan kebudayaan tersebut. Pesantren dapat menjadi ruang yang menghubungkan tradisi dan perubahan, agama dan kebangsaan, serta kesalehan individual dan tanggung jawab sosial.

Gus Dur telah menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhadapan dengan perubahan. Tradisi dapat menjadi sumber daya untuk membaca perubahan secara kritis.

Maka, santri masa kini tidak cukup hanya menjadi generasi yang memahami kitab. Ia juga perlu menjadi generasi yang mampu membawa nilai-nilai kitab ke tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah.

Sebab, generasi baru mungkin tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang Pancasila. Mereka membutuhkan contoh bagaimana Pancasila bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin, di situlah santri dapat membantu Pancasila menemukan bahasa kebangsaannya yang baru.

Tinggalkan Balasan