“Maafkanlah aku, Man. Aku salah paham. Aku terlalu jahat padamu.”
“Akulah yang harus minta maaf padamu, Gus. Memakai sarungmu tanpa minta izin dulu. Dan sekali lagi aku harus minta maaf karena aku tidak bisa mengembalikannya malam ini. Karena celana “guruku” sedang aku cuci. Besok saja aku kembalikan, ya?” Arman tersenyum padaku. Senyum getir.

“Tidak usah kau kembalikan, Man. Ini adalah sarungmu. Pakailah.”
Kali ini senyum Arman semakin lebar. Dan aku baru tahu bahwa senyum ketulusannya itu sungguhlah menawan. Senyum kebahagiaan setelah sekian lama tertahan untuk bisa memakai sarung saat mengaji.
“Lalu. Bagaimana dengan dompet dan isinya?” tanyaku beberapa saat kemudian.
Lama pertanyaanku tak dijawab. Kami semua menunggu dia bicara. Mungkinkah bibirnya sakit untuk bicara?
“Dompet itu ikut kujual dengan rongsokan lainnya.”
“Isinya?”
“Uangnya untuk membeli obat emakku.”
Tiba-tiba udara di atas kepalaku terasa mendidih.
* * *
Simeulue-Aceh. Selasa, 2 Nov. 2015(Revised)
