Sarung Baru Arman

Sambil menunggu kehadiran ustadz pengampu mata pelajaran nahwu kami saling berbagi cerita satu sama lain. Sudah menjadi kebiasaan memang di awal tahun ajaran baru ustadznya tidak hadir. Maka mengalirlah cerita asal-muasal sarung yang dikenakannya itu. Aku mendengarkannya dengan seksama. Semakin cerita itu mengalir aku semakin mengerutkan dahi. Aku berusaha menghubungkan ceritanya dengan apa yang aku alami setahun yang lalu. Semakin ceritanya mendekati akhir aku semakin menemukan keganjilan. Dalam ceritanya, Arman mengatakan bahwa sarung itu ditemukannya setahun yang lalu di sebuah tempat dekat mall tempat dia mengais sampah. Panaslah telingaku mendengar pengakuannya bahwa dia telah menyimpan sarungku itu setahun lamanya.

Aku seketika berdiri didorong oleh rasa marah yang tak terkendali. “Dasar pemulung tak tau diuntung! Bajingan kau!!! Pencopet berkedok santri!! Mana dompetku, hah!?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Teman-temanku kaget mendengar teriakanku. Dan aku tak peduli. Semuanya mengarahkan pandangannya padaku. Arman terbengong-bengong terlambat menyadari permasalahannya. Wajah polosnya menyebalkan sekali. Kemudian kemarahanku menular pada sebagian kawan-kawanku lainnya. Anak-anak yang dulu pernah menaruh curiga pada Arman yang nyeleneh kini terbukti sudah. Kami mengeroyoknya beramai-ramai. Arman tak bisa berbuat apa-apa kecuali melolong-lolong kesakitan.

“Ada apa ini?” teriak seseorang tiba-tiba. Ternyata dia adalah Ustadz Hariri. Kami segera diam dibungkam oleh rasa takut pada ustadz sekaligus pengurus keamanan itu.

“Kenapa kalian memukulinya, hah? Santri macam apa kalian ini?”

“Dia copet, Tadz. Dia yang mencopet dompet dan sarung Gus Takim setahun yang lalu,” jawab Arsyad tak kalah lantang dengan teriakan Ustadz Hariri.

“Sarung apa?” tanya Ustadz Hariri lagi.

Lalu aku menceritakan kronologi hilangnya sarung serta dompetku itu.

“Kenapa kau bisa begitu yakin sarung ini adalah sarungmu? Padahal itu sudah setahun berlalu?” tanya Ustadz Hariri padaku.

“Aku masih sangat ingat dengan merek serta motif sarung yang aku beli setahun lalu ini. Apalagi bekas saus di ujung sarung itu memastikan semuanya. Aku baru saja makan bakso bersama Arsyad waktu itu. Aku tidak tahu kalau tanganku masih ada sausnya ketika menyentuh sarung itu. Dan oleh sebab itulah aku dipaksa untuk membelinya oleh penjual sarung itu.” Aku bercerita dengan semangat yang berapi-api.

“Setahun yang lalu dia memang menemukan sebuah sarung ketika sedang memungut sampah tidak jauh dari tempatmu berbelanja. Dia merasa takut harus diapakan sarung itu. Kemudian dia bertanya padaku tentang keresahannya itu. Aku memberinya penjelasan tentang hukum barang temuan seperti itu. Melalui ajakanku pula akhirnya dia mau mengaji ke pesantren ini. Dia memakai celana ketika mengaji memang karena tidak memiliki sarung, bukan karena alasan ribet,” papar Ustadz Hariri kalem.

“Aku adalah merbot mesjid dekat dengan mall tempat kau belanja itu. Akhirnya aku menyimpan sarung yang ditemukan Arman itu sembari mengumumkannya setiap Jumat, barangkali ada orang yang merasa kehilangan. Sarung itu adalah barang luqotoh. Barang temuan yang harus diumumkan selama setahun di tempat umum sebelum bisa menjadi milik orang yang menemukannya. Dan malam ini adalah tepat setahun sejak sarung itu ditemukan. Waktu ketika barang temuan boleh dipindah kepemilikannya setelah selama setahun diumumkan tidak ada orang yang mencarinya. Dan aku memberikannya kembali pada Arman, orang yang menemukannya.”

Ustadz Hariri menyudahi ceritanya. Aku menelan ludah beberapa kali. Ustadz Hariri menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus tubuh Arman yang babak belur. Bibirnya mengalirkan darah. Dia menyunggingkan senyum ketika menatap Ustadz Hariri. Senyum itu juga dibaginya padaku. Namun aku tak mampu membalasnya. Rasa bersalah dan malu menghilangkan kemampuan bibirku untuk sekadar tersenyum.

Tinggalkan Balasan