Sebelum Ramadan Berakhir

Ada rasa kosong yang aneh setelah Ramadan pergi. Seperti rumah yang tiba-tiba sepi setelah tamu istimewa pulang. Kita melihat sajadah yang tergulung di pojok kamar, mushaf yang masih terbuka di halaman yang sama, dan entah kenapa ada sesuatu yang menusuk di dada. Ramadan meninggalkan kita dengan perasaan bersalah yang lembut.

Tapi tidak semua perpisahan adalah akhir yang buruk. Ramadan pergi dengan membawa doa-doa kita. Mungkin kita tidak sempurna. Mungkin kita terlambat. Tapi Allah tidak pernah menutup pintu-Nya bagi mereka yang datang dengan hati yang basah. Ramadan mengajarkan kita bahwa terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka, sebelum Ramadan benar-benar berakhir, sebelum takbir bergema dan Idul Fitri datang dengan euforia yang membutakan, ada baiknya kita berhenti sejenak. Duduklah di depan sajadah. Bicara kepada Tuhan dengan jujur. Katakan bahwa kita menyesal, tapi kita tidak ingin menyerah.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan soal kesempurnaan. Ramadan adalah soal perjuangan. Dan selama kita masih berusaha, kita belum benar-benar kalah.

Sebelum Ramadan Berakhir

Mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Mari kita peluk waktu yang tersisa, meski tinggal sedikit. Jangan pikirkan apakah kita akan berhasil atau tidak. Tuhan tidak menilai hasil. Tuhan menilai usaha.

Dan barangkali, dengan usaha yang sederhana itu, kita akan keluar dari Ramadan kali ini dengan hati yang lebih ringan. Tidak sempurna, tapi cukup.

Tinggalkan Balasan