Sebelum Ramadan Berakhir

Apakah ini buruk? Tidak sepenuhnya. Penyesalan, walaupun terlambat, masih lebih baik daripada tidak pernah datang sama sekali. Namun, Ramadan punya cara yang aneh untuk membuat kita merasa bersalah. Ia tidak memarahi kita. Ia tidak berteriak, “Lihat, kau menyia-nyiakanku!” Tidak. Ramadan hanya pergi begitu saja, seperti hujan yang berhenti tanpa aba-aba. Kita baru sadar setelah semuanya kering.

Janji yang Berulang

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setiap tahun kita membuat janji yang sama. Tahun depan, kita akan lebih siap. Tahun depan, kita akan memulai Ramadan dengan sungguh-sungguh sejak hari pertama. Tidak ada lagi menunda tarawih. Tidak ada lagi tadarus hanya ketika bosan dengan media sosial. Tidak ada lagi bersedekah karena gengsi. Tahun depan, kita akan menjadi versi terbaik diri kita.

Masalahnya, janji itu kita buat setiap tahun. Dan setiap tahun pula kita mengingkarinya. Kita seperti pemabuk yang selalu berjanji akan berhenti minum, tapi esoknya mabuk lagi. Ramadan berikutnya datang, kita kembali gagap. Kita kembali terlambat sadar. Kita kembali mengejar ketertinggalan di sepuluh malam terakhir.

Kenapa Begini?

Barangkali, karena Ramadan tidak pernah benar-benar terasa seperti kesempatan terakhir. Kita selalu merasa masih ada Ramadan berikutnya. Kita merasa umur kita akan cukup panjang. Kita tidak sadar bahwa mungkin saja Ramadan ini adalah yang terakhir. Bahwa mungkin saja kita tidak akan sempat menebus penyesalan tahun depan.

Setelah Ramadan Pergi

Tinggalkan Balasan