Keruntuhan realitas ditandai dengan lenyapnya perbedaan antara yang real dan yang virtual akibat dari rekayasa model-model (citraan, halusinasi, simulasi) karena dianggap lebih nyata dari pada realitas itu sendiri. Baudrillard menyebutnya sebagai hiperrealitas, ketika ekspansi modernitas yang tanpa disadari telah menyingkirkan berbagai kebudayaan sarat makna, identitas majemuk, masyarakat plural ke arah masyarakat tunggal kapitalisme mutakhir dengan segala gelimang kemewahan tanpa makna, nonsubstansial.
Kita kian terjerat pada tataran masyarakat konsumer yang mengagumi kecepatan, image, produk, dan kebaruan yang selalu menghiasi kehidupan sehari-hari. Batas-batas teritorial, negara, sosial-kebudayaan lenyap dengan adanya internet dan televisi.

Televisi, misalnya, pada suatu saat memuat kabar tertangkapnya teroris, lalu diikuti iklan dengan busana terbuka ala Barat, kemudian dibenamkan dengan kabar keburukan pejabat negara yang bertindak menyeleweng, sedetik kemudian disusul dengan kabar pelecehan seksual kepada seorang anak. Tanpa memandang objek, televisi telah mengaburkan stratifikasi sosial, yang miskin/kaya, preman/ustaz, anak-anak/dewasa, tak ada bedanya. Pada tahap akhir ia mendekonstruksi life-style, identitas sosial, dan kearifan sosial yang mapan.
Dekonstruksi Identitas
Internet semakin menggurita dengan pemujaan terhadap penampakan (appearance), dalam Yasraf (2020) diartikan sebagai kualitas objek yang secara langsung dapat ditangkap oleh intuisi, untuk membedakannya dengan realitas sesungguhnya, yang berada di luar jangkauan intuisi, tentunya dengan kehadiran media sosial.
Di sinilah kemudian hiperrealitas tercipta, ketika yang real tak lebih nyata dari pada yang virtual, saat virtual tak lagi disebut sebagai alternatif terhadap yang real. Pola dan identitas sosial berubah, orang-orang kian memuja citra diri (image) yang sering direkayasa habis-habisan. Tujuannya tak lain hanya sensasional belaka, yakni populasi. Padahal, dalam salah satu kalam hikmahnya, Ibn Athoillah mewanti-wanti para murid dengan berseru, “Pendamlah eksistensimu di dalam tanah yang tak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh dari tanah yang tidak terpendam sepenuhnya hasilnya biasanya tidak akan sempurna.” Sembari memberi contoh kisah keteladanan Uwais Al-Qarni.
Dengan kecepatan sebagai titik tumpu, media sosial menjadi ladang subur untuk apa saja. Papua, Barat, China, Negro, orang Jawa, Minang, Madura, penjahat, orang baik, orang rada baik, spekulan, koruptor, pengusaha, anak punk, ustaz, pelacur, mucikari, penipu, pengedar narkoba, dan sebagainya. Semuanya saling berbentur, memengaruhi dan yang kuat nan massif adalah pemenang, seperti halnya western.
