Sebagai penutup, bolehlah saya meralat statemen bahwa kesantrian kita diuji di hadapan internet. Yang rasanya lebih pas; seampuh dan sekokoh mana pendidikan keislaman yang diterapkan oleh pesantren sebagai sebuah benteng ketika ia berkonfrontasi dengan salah satu instrumen imperialisme Barat dengan sistem kapitalismenya itu, apabila seorang santri telah kehilangan kontrol dengan media tersebut, seyogyanya pendidikan di pesantren dipersoalkan kembali, diadaptasikan, di-upgrade sesuai dengan perkembangan waktu yang kian menyajikan “hiperfatamorgana” dan chaos. Semoga.
