Pada sesi yang lain, penyair Yogjakarta Rekki Zakkia membawakan dua puisi karyanya. Kemudian ada Evi Idawati, penyair dan pegiat film, membawakan puisi terbarunya. Kedua penyair tersebut berlatar belakang Nahdliyyin. Lalu penyair yang juga Ketua Panitia Festival Dunia Santri 2026, Beni Satria, membacakan satu puisinya yang didedikasikan buat almarhum Uki Bayu Sejati.
Sebelumnya, ada refleksi sastra sastri yang diberikan oleh Mustafa W Hasyim dan Jamal D Rahman. Mustafa, menguraikan sisi historis pergulatan Muhammadiyah sastra Indonesia modern. Sementara, Jamal membandingkan “negosiasi” Islam modernis dan Islam tradisionalis dalam sastra Indonesia modern. Di bagian akhir, Jamal menantang bagaimana dua jalur tersebut, Muhammadiyah dan Nahdliyyin, memberikan kontribusi yang lebih bermakna bagi sastra Indonesia di masa depan.

“Itulah tantangannya hari ini,” ujar Jamal D Rahman.
Sebelum penampilan Gus Muwafiq sebagai tuan rumah, Joni Ariadinata membacakan sebuah cerpen dengan gaya yang teatrikal. Menariknya, cerpen tentang drama di liang kubur yang menghibur itu ternyata belum diberi judul karena hasil improvisasi. Nama-nama tokoh dalam cerpen dicomot begitu saja dari mereka yang hadir, seperti Al-Zastrouw, Mahwiyanto, Gus Muwafiq, Rekki, dan sebagainya. Cerita horor penuh humor itu sering membuat penonton terbahak dan bertepuk tangan.
