Agus R Sarjono, Mustafa W Hasyim, Nisa Rengganis, dan Mutia Sukma, misalnya, para penyair berlatar belakang Muhammadiyah. Sedangkan, Jamal D. Rahman, Kedung Darma Romansha, Evi Idawati, dan Rekki Zakkia, adalah para seniman dan penyair dari lingkungan pesantren atau NU. Mereka bergiliran membaca puisi, musikalisasi puisi, dan memberikan refleksi sastra sastri. Terakhir, sebagai tuan rumah, Gus Muwafiq alias KH Ahmad Muwafiq menghibur para tamu dengan pembacaan puisi dan menyanyikan banyak genre lagu. Acara berlangsung meriah hingga larut malam.
Kedung Darma Romansha tampil pertama membacakan dua puisinya yang didedikasikan kepada KH Hamid Pasuruan dan Gus Dur. Laiknya ungkapan penghormatan seorang santri kepada kiainya.

Lalu ada Nisa, penyair yang aktifis HMI, staf Kementerian Kebudayaan, membacakan puisi bertema Palestina. Juga Mutia Sukma, dosen Universitas Aisyiah Yogyakarta, yang membacakan karyanya bertema kehidupan dapur seorang perempuan.
Penyair asal Bandung yang juga Pengurus Lembaga Seni Budaya Pengurus Pusat Muhamadiyah, Agus R Sarjono, tampil bersama sang istri, Cerly Chairani Lubis. Yang menarik, mantan redaktur Majalah Sastra Horison itu tak membacakan puisinya. Dengan memainkan gitar, bersama istri, ia menyanyikan dua puisi yang digubah menjadi lagu. “Sekarang saya tak baca puisi, tapi nyanyi saja,” ujar Agus R Sarjono.
