Senja Terakhir di Pesantren

Senja telah tiba, tapi aku enggan beranjak dari tempat ini. Aku suka berlama-lama di sini, setelah sekian lama terlempar oleh jarak dan waktu sehingga membuatku merindu. Gubuk sederhana yang terletak di pinggir sawah ini membuatku bisa menikmati indahnya suasana senja, meski pikiranku terus saja ber-ostalgia. Udaranya sejuk, sesekali angin sepoi-sepoi menerpa wajah.

Aku melihat luasnya hamparan padi yang mulai menguning. Burung-burung mengudara dengan bebas di bawah bentangan langit yang ditemani oleh kilauan cahaya dari sinar-sinar terakhir mentari sore hari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebenarnya dulu persawahan ini mengitari kompleks Pondok Pesantren al-Hikmah, tempatku menuntut ilmu dulu. Pemilik dari sawah ini Kiai Shabirin, pengasuh Pondok Pesantren al-Hikmah. Namun, setelah aku membalikkan badan, kini yang tampak adalah bangunan tinggi nan kokoh yang sesekali menguarkan suara bergemerisik. Bising. Ya, kini bukan lagi pesantren yang ada di situ, melainkan pabrik beras yang menjadi roda perputaran ekonomi. Masjid tempat kami dulu mengaji berubah menjadi lima kandang sapi, sedangkan dalem Kiai Shabirin berubah menjadi tempat penggilingan padi.

Aku masih ingat saat sawah ini masih dalam pangkuan pesantren. Semua santri bekerja secara suka rela. Biasanya aku menggarapnya saat senja tiba, serta diselingi permainan yang menyenangkan karena hanya waktu itulah kegiatan pesantren senggang.

Setelah musim panen tiba, Kiai tidak mengambil sepeser pun dari hasil penjualan. Sebagian dialokasikan ke dapur untuk keperluan makan santri dan sisanya disedekahkan pada yang membutuhkan.

Pesantren al-Hikmah adalah tempat menimba ilmu khusus untuk anak yang tidak mampu. Entah karena yatim, piatu, atau memang terlahir dengan finansial yang serba kekurangan. Oleh karena itu, santrinya tidak terlalu banyak. Sekitar seratus santri yang menetap, sedangkan yang lainnya datang, lalu pulang.

Mataku kembali menatap retina nostalgia pada masa lima tahun yang lalu, saat aku dan para santri lainnya berjalan di tengah pematang sawah saat senja tiba. Banyak hal yang kami lakukan, termasuk menggerakkan orang-orangan sawah agar burung terbang mengudara, saat sebagian hamparan telah menguning, mendekati masa panen.

Baru setelah matahari hampir terbenam, kami memutuskan untuk pulang, berjalan beriringan dengan hati-hati di tepi sawah karena takut terpeleset. Kami akan duduk dan tertawa terpingkal-pingkal saat salah satu dari kami jatuh terpeleset ke lumpur. Sungguh hari-hari yang menyenangkan.

Aku segera tersadar dari lamunanku dan mulai menyalahkan takdir tentang apa yang sudah terjadi pada pesantrenku. Aku sendiri tidak mengerti mengapa semua itu terjadi begitu tiba-tiba, saat aku mulai menyukai senja bersama bayangan teman-temanku yang memantul di genangan air persawahan.

Sorot mataku terus mengarah ke depan. Pikiranku mencoba mengais dan merangkai puing-puing kisah yang terjadi di masa lalu. Saat semuanya mengubur dalam-dalam hiruk-pikuk Pesantren al-Hikmah menjadi pabrik beras terbesar di kota ini.

***

Waktu itu…

Kiai Adnan kondisinya kian parah. Beliau tidur di pangkuan anak sulungnya, Gus Shabirin. Sedangkan putra pertamanya, Gus Abduh, sedang berada di Yogyakarta. Kedua putra putra beliau memiliki perbedaan yang mencolok. Gus Shabirin lebih memilih mengabdi untuk pesantren karena sedari lulus dari mondok sudah mulai membantu abahnya mengajar ilmu agama. Beda halnya dengan Gus Abduh yang memilih jalur formal dalam menempuh pendidikannya. Kini ia sedang mengejar magisternya di Universitas Gajah Mada, sambil terus mengembangkan organisasinya.

Perbedaan usianya tidak terpaut jauh. Gus Abduh kini menginjak usia 24 tahun, selisih tiga tahun di atas Gus Shabirin; mungkin kesamaan antara keduanya adalah mereka piatu. Ya, Ibu Nyai telah tiada sepuluh tahun silam karena terjangkit penyakit leukimia.

 ***

Tinggalkan Balasan