“Bagaimana dengan bagianku.” Suaranya cepat, nadanya agak meninggi.
“Kakak tidak menjenguk abah waktu sakit, pemakaman pun tidak sudi datang. Sekarang malah nanya warisan.”

“Jangan banyak omong. Bilang saja aku dapat berapa bagian.” Ketus. Terdengar ngotot di telinga.
“Kakak hanya dapat sawah bagian timur, selainnya masih kepunyaan pesantren.”
Klekk… telepon itu ditutup.
Percakapan berakhir. Rasa iri telah hadir dan mungkin segera berubah menjadi kebencian yang luar biasa!
Pertalian persaudaraan mereka berdua memburuk. Kiai Adnan yang meninggal beberapa hari sebelumnya menyebabkan keretakan hubungan antarsaudara semakin menjadi-jadi. Pasalnya, Gus Abduh tidak puas dengan hasil pembagian warisan. Sawah berhektare-hektare itu malah sebagian besar milik pesantren yang kini dipangku adik kandungnya itu. Padahal, dia butuh dana lebih untuk membesarkan organisasinya itu. Baginya organisasi adalah segalanya.
Nun jauh di sana, Gus Abduh mencoba mengingat masa kecilnya. Memang benar, dia-lah yang sering disalahkan saat adiknya terjatuh waktu bermain bersamanya. Selalu dia yang dituduh menjadi kambing hitam, sedangkan Shabirin selalu dibela abahnya. Dan sekarang, ia malah mendapat bagian sekidit dari warisan. Ia merasa dianatirikan.
***
Senja itu Kiai Shabirin berjalan bersama seluruh santrinya menuju sawah. Mereka berjalan dengan wajah berseri-seri karena acara yang ditunggu-tunggu akan segera mulai. Bukan memanen yang akan mereka lakukan, tapi permainan pukul jerami antar-santri. Biasanya permainan ini hanya dilaksanakan sepekan sekali, tepatnya pada setiap Senin sore.
Permainan akan mulai di kala senja mulai tiba, untuk menjadi penghibur di sela-sela padatnya kegiatan. Satu per satu dari santri berkesempatan untuk menunjukkan kebolehannya.
Batang padi ditumpuk menjadi gundukan, serta jerami diikat untuk dijadikan senjata pukulan. Siapa yang roboh dialah yang kalah. Sedangkan, di sekitarnya terdapat lumpur tanah.
Kiai Shabirin bersorak memberi semangat. Para santri tak kalah hebohnya. Semua saling meneriakkan nama yang mereka dukung. Itu adalah laga terlama di sore itu. Dengan bermandikan keringat, kedua santri itu layaknya seorang petarung, sesekali memukulkan jerami dengan tangan kanan dan menangkis dengan tangan kiri. Mereka berusaha menjatuhkan satu sama lain. Teman di asrama, tapi musuh di arena. Hingga salah seorang terpeleset dari gundukan batang padi dan terjerembab ke lumpur. Sontak semua tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah yang hitam legam terkena lumpur. Kiai Shabirin sendiri tertawa sambil menutup wajahnya dengan surban yang selalu terpasang di lehernya.
Mereka bergegas pulang saat senja hampir tiada. Mereka merasa senang dan terus berharap dapat lebih lama menikmati suasana senja. Esok, lusa, dan seterusnya!
***
