Waktu itu masih pukul 15:30. Semua santri larut dalam lantunan wirid salat ashar yang dipimpin oleh Kiai Shabirin sendiri di masjid pesantren. Semuanya khusyuk mengharap Tuhan memberikan takdir terbaiknya.
Aku tidak sabar menunggu lantunan wirid cepat selesai, sebab senja ini giliranku beradu ketangkasan di atas gundukan batang padi. Aku berharap lawanku tidak terlalu kuat, agar aku bisa dengan mudah menyingkirkannya.

Saat Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, terdengar teriakan massa dari luar masjid. Sontak aku menoleh ke belakang. Terlihat olehku sekumpulan orang memegang beraneka ragam benda keras di tangan mereka.
“Bukankah itu Gus Abduh? Sebenarnya apa yang beliau lakukan?” batinku.
Gus Abduh tampak berdiri menghadap kerumunan orang di depan masjid.
“Saya telah mendapat ketidakadilan di dalam pembagian warisan. Sekarang ini memang banyak kaum feodal yang bersembunyi di balik topeng agama. Termasuk si Shabirin. Sebenarnya dia ingin menjadi tuan tanah yang kaya raya dengan memanfaatkan pesantrennya itu.” Gus Abduh teriak berapi-api.
Gerombolan itu ikut berteriak.
“Singkirkan kiai munafik! Singkirkan pengkhianat tali persaudaraan.” Gerombolan itu mulai mengepalkan tinju ke udara.
Aku, juga para santri lain, dibuat bingung dengan kejadian itu. Aku tidak mengerti apa yang Gus Abduh bicarakan. Bukankah lebih baik kalau beliau berpidato masalah agama, sebagaimana Kiai Shabirin. Sepertinya ujaran kebencian yang beliau ucapkan. Ada apa ini?
Kiai Shabirin yang mengetahui itu segera menghampiri kakaknya, tak sempat sampai, beliau langsung dibekuk kedua tangannya oleh dua orang yang tak kukenal. Mungkin teman dari Gus Abduh. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena gerombolan itu akan mengacungkan balok kayu, saat kami melangkah maju.
“Apa-apaan ini kak? “ beliau berusaha memberontak sekuat tenaga, tapi sia-sia.
“Itu hukuman karena kau telah menghasut Abah. Kau sengaja mengambil hati Abah, supaya dapat menguasai ladang.” Sahutnya dengan disambung gelak tawa.
Hatiku merasa terbakar saat melihat Kiai Shabirin digelandang ke ladang sawah, layaknya binatang. Massa Gus Abduh membawa beliau ke gudang penyimpanan padi. Beliau didorong hingga terjerembab masuk ke gudang, lalu pintu dikunci.
Mataku terbelalak saat melihat mereka melumuri gudang itu dengan bensin. Aku menerka tentang apa yang akan terjadi. Dan benar saja, tak lama kemudian api yang cukup besar membumbung tinggi. Banyak santri yang menjerit. Sedangkan diriku hanya bisa terdiam, melihat dengan tatapan nanar. Hingga tak sadar kalau pipiku sudah basah oleh air mata.
Tidak akan ada lagi kebahagiaan saat senja tiba. Yang ada hanya kesedihan dan kenangan karena kini senja telah sudi menjadi waktu eksekusi bagi orang yang kami hormati.
