Hari ini mulai ada sesuatu yang perlahan-lahan hilang dari cara kita memandang ilmu, yaitu rasa lelah untuk mendapatkannya.
Dahulu, ilmu tidak selalu datang kepada seseorang dalam keadaan mudah. Untuk bertemu dengan seorang guru, seseorang harus berjalan jauh, harus meninggalkan rumah, menempuh perjalanan jauh berhari-hari, mengeluarkan biaya, menghadapi panas dan dingin, serta menanggung berbagai kesulitan yang hari ini mungkin terasa tidak masuk akal.

Hari ini kita sering mengeluh ketika sebuah pelajaran berlangsung sedikit lebih lama dari yang kita inginkan. Kita merasa berat ketika harus membaca puluhan halaman. Bahkan untuk datang ke sekolah, ke kelas yang jaraknya tidak terlalu jauh, terkadang kita masih harus mengalahkan rasa malas yang sangat besar.
Padahal dahulu, para pencari ilmu justru harus menempuh perjalanan yang tidak sederhana hanya untuk mendapatkan satu pengetahuan. Kita mengenal kisah para ulama hadis yang harus melakukan perjalanan jauh dalam mencari ilmu.
Imam al-Bukhari, misalnya, melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk bertemu para perawi dan memperoleh hadis. Begitu pula banyak ulama lainnya. Mereka tidak hidup dalam zaman ketika satu kitab dapat dicari melalui mesin pencari, sebuah hadis dapat ditemukan dalam hitungan detik, atau kajian seorang ulama dapat diputar ulang kapan saja.
Pada masa itu, mencari ilmu adalah sebuah perjalanan. Mereka mendatangi guru. Mereka rela menempuh jarak yang panjang hanya untuk mendengar sebuah hadis atau memperoleh pengetahuan dari orang yang mereka percaya.
Sedangkan hari ini, guru dapat hadir melalui layar. Ribuan kitab dapat berada dalam satu genggaman. Hadis yang dahulu harus dicari melalui perjalanan panjang, sekarang dapat ditemukan hanya dengan beberapa ketukan jari pada layar. Kajian yang dahulu mengharuskan seseorang duduk di depan majlis, kini dapat didengarkan dari kamar, kendaraan, bahkan sambil melakukan aktivitas harian.
Tentunya ini merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Namun, kemudahan ini juga membuat cara kita belajar agama perlahan berubah. Jika dahulu kita harus mendatangi guru untuk mendapatkan ilmu, sekarang kita cukup dengan hanya membuka layar untuk mendengar dari begitu banyak orang yang berbicara tentang agama.
Persoalannya kemudian bukan lagi tentang sulitnya menemukan ilmu. Melainkan tentang siapa yang kita jadikan sumber ilmu. Di medi sosial, seseorang dapat berbicara tentang agama tanpa harus lebih dahulu kita ketahui latar belakang keilmuannya. Ukuran yang tampak di hadapan kita sering kali bukan kedalaman ilmu. Melainkan jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau seberapa menarik cara ia menyampaikan.
Padahal, banyaknya orang yang mendengar tidak selalu menunjukan dalamnya ilmu seseorang. Begitu pula kemampuan berbicara dengan baik tidak selalu menunjukan keluasan pengetahuan. Dalam persoalan agama, cara seseorang memperoleh ilmu dan bagaimana ia memahami sumber-sumber agama tentu menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan.
Masalahnya, media sosial tidak selalu memperhatikan hal tersebut. Kita hanya melihat potongan ceramah, beberapa menit penjelasan, atau satu kesimpulan yang sudah selesai. Kita tidak melihat proses panjang yang melatarbelakanginya.
Di sinilah pelajaran agama melalui media sosial membutuhkan kehati-hatian. Kita tidak cukup hanya bertanya apa yang disampaikan, tetapi juga siapa yang menyampaikannya dan dari mana pengetahuan itu berasal.
Sebab dalam tradisi keilmuan Islam, mengetahui sebuah pendapat tidak pernah menjadi akhir dari proses belajar. Kita perlu mengetahui dalilnya, cara memahaminya, serta bagaimana para ulama membahas persoalan tersebut. Dan mungkin di sinilah perbedaan antara mendengar agama dan belajar agama.
