Sound Horeg, Fatwa MUI, dan Pelarian Akar Rumput

Namun, di luar perdebatan kausalitas kematian tersebut, ada esensi yang lebih besar dari lahirnya fatwa MUI: fatwa ini adalah alarm spiritual sekaligus instrumen kontrol sosial. Ia hadir sebagai dorongan moril agar pemerintah mau mengambil alih kemudi pengawasan.

Poin ini sejalan dengan pandangan Maman Imanul Haq (anggota DPR RI) yang menegaskan bahwa negara harus hadir secara konkret. Negara tidak boleh absen dalam melindungi hak warga negara secara umum. Kehadiran negara harus diwujudkan melalui regulasi tegas dan bijak: mulai dari pembatasan desibel, hingga lokalisasi wilayah karnaval agar tidak merusak kedamaian kawasan pemukiman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ekspresi Akar Rumput

Di balik seluruh lapisan perdebatan hukum, kesehatan, dan moral ini, ada satu realitas sosiologis yang getir. Di tengah kondisi negara yang dirasa kian menjauh dari keberpihakan pada rakyat kecil, serta tidak adanya akses terhadap hiburan murah yang bermartabat, dentuman sound horeg menjelma menjadi katarsis. Getaran bas yang mengentak dada adalah cara masyarakat akar rumput merayakan kebahagiaan, eksistensi, dan kebersamaan mereka yang tersisa.

Pada akhirnya, polemik sound horeg bukanlah masalah hitam-putih audio semata. Ia adalah potret kompleks yang mempertemukan batas moral, etika sosial, hak kesehatan publik, benturan selera, hingga ekspresi kultural kelas pekerja yang sedang mencari ruang untuk bergerak bebas.

Sebagai penutup, berikut saya kutip catatan kritis KH Husein Muhammad dalam buku Memahami Cita-Cita Teks Agama, sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan di awal tulisan.

“Dari sinilah, maka setiap kehendak dan tindakan manusia harus mempertimbangkan kehendak dan tindakan orang lain. Jadi kebebasan selalu meniscayakan tanggung jawab. Kehendak bebas tanpa mempertimbangkan kehendak bebas yang lain dan tanpa tanggung jawab, niscaya akan menciptakan relasi antarmanusia dalam konflik yang terus menerus, bahkan sangat mungkin melahirkan situasi dunia yang chaos. Manusia lalu menjadi homo homoni lupus (makhluk yang saling memangsa). Maka bertindak bebas adalah bertindak etis.“

Tinggalkan Balasan