Korelasi Stoikisme dengan Islam
Di sisi lain, Islam, sebagai agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7 Masehi, membawa pesan universal tentang penyerahan diri kepada Allah dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, Islam dan stoikisme memiliki beberapa titik temu yang menarik untuk dieksplorasi.

Beberapa kesamaan mendasar antara stoikisme dan Islam adalah, pertama, penekanan pada pengendalian diri dan penerimaan terhadap takdir.
Dalam stoikisme, konsep ini dikenal sebagai “amor fati” atau cinta pada nasib, sementara dalam Islam, ini tercermin dalam konsep “tawakkal” atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha. Kedua tradisi mengajarkan bahwa kedamaian batin dapat dicapai melalui penerimaan atas hal-hal yang di luar kendali kita.
Stoikisme dengan empat kebajikan utamanya memiliki keselarasan dengan konsep akhlak dalam Islam. Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW penuh dengan ajaran tentang pentingnya memiliki sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, kesabaran, keberanian, dan kebijaksanaan.
Dimensi pengendalian diri di atas, menjadi aspek sentral baik dalam ajaran Stoikisme maupun Islam. Stoikisme mengajarkan bahwa emosi yang tidak terkendali (pathos) dapat mengaburkan penilaian rasional dan mengganggu ketenangan batin. Mereka menekankan praktik seperti meditasi dan refleksi diri untuk mengembangkan disiplin emosional.
Senada dengan itu, Islam juga sangat menekankan pengendalian diri atau mujahadah an-nafs. Al-Qur’an menyebut orang-orang yang mampu mengendalikan diri sebagai orang-orang yang beruntung.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa “Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
