Maraknya pertarungan ideologi global, seperti kapitalisme dan konsumerisme, sebut Melani, juga dapat menggerus kecintaan masyarakat Indonesia terhadap Pancasila. Bahkan, budaya dan tradisi lokal tempat Pancasila digali juga mulai tersisih oleh serbuan ideologi dan gaya hidup global ini.
Namun begitu, Melani sangat optimis kita memiliki peluang besar untuk tetap menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa saat ini. Ia menyebut, munculnya generasi muda milenial yang kreatif, kritis, canggih menggunakan media, namun telah memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi adalah peluang untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Selain itu, berkembangnya komunitas-komunitas budaya yang berkesadaran untuk mengembangkan budaya lokal yang terbuka pada keragaman juga menjadi peluang. “Sekarang, tergantung bagaimana pemerintah menfasilitasi munculnya generasi-generasi yang telah memiliki kesadaran berkebangsaan ini untuk terus menanamkan nilai-nilai Pancasila,” katanya.
Seiring dengan Melani, Bisri Effendy sebagai nara sumber terakhir menegaskan posisi Pancasila sebagai local genius sekaligus local wisdom, yang hingga kini tetap hidup di masyarakat. Lebih tepatnya, kearifan dalam bingkai kebhinekaan. Dalam paparannya, Bisri menegaskan bahwa Pancasila adalah hasil saripati perasan para tokoh bangsa dalam memformulasikan serta mencari bentuk ideal falsafah negara saat itu hingga puncaknya terbentuklah kelima sila yang sekarang ini disebut dengan Pancasila. Kearifan lokal menjadi pemersatu masyarakat sehingga mampu mewujudkan kerukunan dan menata kehidupan serta keberlangsungan hidup mulai dari ekonomi, politik, dan lingkungan agar lebih manusiawi.
