Teknik Belajar Modern, Tradisi Lama Pesantren

Keempat, Syawir/Bahtsul Masail (Discussion-Based Learning). Musyawarah atau syawir adalah kegiatan diskusi kelompok di pesantren. Santri dibagi dalam kelompok kecil (biasanya 6-7 orang) untuk membaca kitab, menerjemahkan, lalu saling bertanya dan menjawab dengan mengacu pada referensi.

Ada juga istilah bahtsul masail (diskusi ilmiah)—di mana setiap peserta didorong untuk memiliki landasan ilmiah dalam berpendapat, bukan sekadar asumsi untuk menyelesaiakan suatu permasalahan.

Ini adalah implementasi dari Discussion-Based Learning (DBL) atau pembelajaran berbasis diskusi. DBL adalah bentuk active learning (pembelajaran aktif) dan metode pengajaran konstruktivis di mana terjadi pertukaran berbagai interpretasi, penjelasan, pendekatan terhadap masalah, atau solusi yang mungkin, yang kemudian dievaluasi bersama. DBL mendorong peserta didik untuk mengeksplorasi perspektif beragam, menyelidiki asumsi, dan mengalami pembelajaran kolaboratif. Istilah lain yang terkait adalah collaborative learning (pembelajaran kolaboratif) dan problem-based learning (PBL).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kelima, Pembatasan HP & Gadget (Digital Detox Environment& Distraction-Free Learning). Di pesantren, santri umumnya tidak diperkenankan membawa atau menggunakan smartphone selama di lingkungan pesantren. Semua bentuk komunikasi dengan keluarga diatur melalui jalur khusus. Kebijakan ini bukan sekadar aturan main-main, melainkan bagian dari sistem pendidikan yang telah teruji. Tujuannya jelas: menjaga fokus belajar santri, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan mengurangi gangguan digital. Santri menjadi lebih hadir secara fisik dan mental dalam setiap kegiatan—baik saat mengaji, berdiskusi, maupun beribadah bersama.

Dalam dunia pendidikan modern, kebijakan ini dikenal dengan istilah Digital Detox Environment (Lingkungan Detoks Digital) dan Distraction-Free Learning Environment (Lingkungan Belajar Bebas Distraksi). Saat ini, sekolah-sekolah di berbagai negara mulai menerapkan kebijakan Phone-Free School atau melarang HP di lingkungan sekolah sebagai upaya mengatasi menurunnya konsentrasi dan meningkatnya kecanduan gadget di kalangan siswa.

Yang membedakan, program detoks digital modern biasanya bersifat sementara dan reaktif —membatasi waktu layar setelah kecanduan terjadi, atau mengadakan kamp khusus selama beberapa hari. Pendekatan ini mengobati gejala, bukan membentuk kebiasaan dari awal.

Pesantren mengambil pendekatan yang berbeda: lingkungan tanpa gadget sudah menjadi bagian dari sistem sejak hari pertama santri masuk. Anak tumbuh dalam lingkungan di mana interaksi langsung, ibadah bersama, dan kegiatan nyata mengisi setiap sudut hari. Salat berjamaah lima waktu, tahsin Al-Qur’an, diskusi kitab kuning, dan berbagai kegiatan lainnya mengisi waktu santri dari subuh hingga malam. Tidak ada ruang kosong yang menganga—karena yang menggantikan layar adalah kehidupan yang nyata dan bermakna.

Menariknya, metode-metode yang sudah berabad-abad dipraktikkan di pesantren ini ternyata memiliki kesejajaran dengan teori-teori belajar modern yang telah teruji secara ilmiah di laboratorium-laboratorium psikologi dan pendidikan. Personalized learning, lecture-based learning, spaced repetition, retrieval practice, discussion-based learning, dan dialogic learning—semua istilah ini adalah bukti bahwa pesantren telah mendahului zamannya dalam merancang sistem pembelajaran yang efektif.

Tinggalkan Balasan