Teknik Belajar Modern, Tradisi Lama Pesantren

Dalam praktiknya, metode ini sering disebut juga sebagai individualized instruction (pengajaran individual) atau adaptive learning (pembelajaran adaptif)—di mana guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan perhatian penuh pada satu siswa dalam satu waktu.

Kedua, Bandongan/Wetonan (Lecture-Based Learning). Bandongan (atau wetonan) adalah metode di mana seorang kiai membacakan, menerjemahkan, menerangkan, dan mengulas kitab-kitab Islam klasik di depan banyak santri sekaligus—bisa antara 5 hingga 500 orang. Para santri menyimak, memperhatikan kitab masing-masing, dan membuat catatan berupa arti kata maupun keterangan tentang bagian yang sulit. Kelompok santri dalam sistem ini disebut halaqah—lingkaran belajar di bawah bimbingan seorang kiai.

Metode ini setara dengan Lecture-Based Learning (LBL) atau pembelajaran berbasis ceramah. LBL adalah metode pengajaran di mana instruktur menyajikan informasi kepada peserta didik dalam format terstruktur, dengan instruktur sebagai sumber utama informasi, sementara peserta didik mendengarkan, mencatat, dan berpartisipasi dalam tingkat yang bervariasi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun sering dianggap “kuno” oleh sebagian pendidik modern, metode ini tetap menjadi tulang punggung perkuliahan di universitas-universitas terbaik dunia karena efisiensinya dalam menyampaikan materi kepada banyak orang sekaligus.

Sistem kuliah umum atau seminar yang kita kenal sekarang nyaris identik dengan sistem bandongan—satu ahli menerangkan, banyak murid menyimak dan mencatat.

Ketiga, Hafalan dan Lalaran (Spaced Repetition & Retrieval). Hafalan dan Lalaran adalah tradisi turun-temurun di pesantren. Materi yang dihafal tidak hanya Al-Qur’an, tetapi juga hadis, mahfuzhat (kata-kata hikmah berbahasa Arab), nadham (syair-syair ilmu), dan berbagai matan kitab klasik.

Yang menarik, santri tidak hanya menghafal sekali, tetapi terus-menerus mengulang (muraja’ah) hafalannya secara rutin—setiap hari, setiap pekan, atau setiap kali hendak melanjutkan hafalan baru. Mereka juga menyetorkan hafalan di hadapan kiai tanpa melihat teks (setoran). Inilah yang membuat hafalan santri kuat dan melekat hingga tua.

Dalam ilmu kognitif, metode ini dikenal dengan dua istilah sekaligus. Yang pertama, Spaced Repetition (pengulangan berjarak): Strategi belajar di mana paparan terhadap informasi disebar secara temporal (diberi jeda waktu) untuk meningkatkan hafalan jangka panjang. Belajar dengan jeda waktu jauh lebih efektif daripada belajar sekaligus dalam satu waktu (massed practice). Istilah lain yang sering dipakai adalah spaced practice atau distributed practice.

Kemudian, Retrieval Practice (latihan mengingat). Ini berarti praktik mengingat kembali informasi dari ingatan, bukan sekadar membaca ulang. Ketika santri “menyetorkan” hafalan, ia sedang memaksa otak untuk mengingat informasi tanpa melihat teks—dan ini adalah salah satu cara paling efektif untuk memperkuat memori serta melatih peningkatan fungsi otak.

Tinggalkan Balasan