Tetap Jernih di Tengah Keruhnya Media Sosial

Kondisi kehidupan yang semakin rumit seperti ini, mengharuskan kita melakukan refleksi. Refleksi memberikan peluang untuk memahami dan membaca realitas secara lebih jernih. Refleksi juga sering dilakukan oleh para tokoh besar sebelum mereka melakukan transformasi kepada masyarakat. Kita bisa mengambil hikmah atas apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika beliau bertafakur di Gua Hira sebelum mendapatkan wahyu dari Alllah.

Dr Nadisyah Hosen dalam bukunya yang inspiratif, Mari Membaca Iman (2011), menyuguhkan  beberapa pelajaran penting yang layak untuk diteladani. Pertama, saat moralitas dan hati nurani tidak menjadi keindahan suatu masyarakat, kita harus menyingkir untuk memikirkan kondisi masyarakat. Kedua, di tengah masyarakat yang berlumur maksiat, kita harus menghela napas sejenak dan mencoba menyucikan diri terlebih dahulu sebelum menyucikan masyarakat luas. Ketiga, di tengah “kesendirian”, kita bertafakur untuk mencari solusi terbaik dari persoalan yang dihadapi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sejarah menginformasikan kepada kita untuk sesering mungkin bertafakur. Semestinya kita berikan kesempatan kepada diri kita untuk mendamaikan hati dengan keheningan, ketenangan dan membangun komunikasi dengan Allah Swt agar kita selalu mendapatkan keberkahan dan petunjuk-Nya sehingga bisa bijak dalam menghadapi hidup ini.

Di era yang penuh fitnah ini, memperbanyak diam sembari mengolah pikir adalah sikap bijak yang dapat kita lakukan. Kita tahan lisan dan jari jemari kita agar tidak banyak bicara dan banyak berkomentar agar kita selamat.

Marilah kita amalkan hadis Rasulullah Saw: “Man shamata naja. Barangsiapa diam, maka ia selamat.”

Wallahu a’lam bi shawab.

Tinggalkan Balasan