Tradisi “Lekoran” Orang Madura

Pada bulan Ramadan kemarin, saya dan beberapa santri Pondok Pesantren Ruhul Islam Almuntaha, Sumenep, selesai melaksanakan kajian kitab Fathul Qarib di masjid. Sebagaimana rutinitas kami setiap Ramadan tiba adalah mendiskusikan dan sama-sama mengaji kitab-kitab kuning ringan dan sederhana.

Tak lama kemudian, kami melihat beberapa gerombolan ibu-ibu membawa berpinggan-pinggan palotan menuju masjid pesantren kami. Masjid yang biasa kami tempati untuk berinteraksi dengan kitab-kitab kuning, masjid tempat warga-warga lokal dan para santri salat tarawih. Mereka terlihat berbaris memanjang ke belakang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagi yang belum tahu, palotan adalah istilah Madura untuk menyebut beras ketan yang sudah ditanak. Biasanya, palotan dilengkapi dengan toping yang khas. Topingnya berupa telur rebus dan parutan kelapa yang sudah disangrai gurih. Setelahnya, palotan ini dihidangkan untuk jemaah tarawih, jemaah tadarus, dan santri.

Sehabis tarawih, para jemaah biasanya tidak langsung beranjak pulang. Beberapa dari mereka memilih bercakap dengan jemaah lain dengan menyantap hidangan palotan tadi. Palotan kian menjadi bingkai perbincangan hangat kekeluargaan.

Pemandangan seperti itu sebenarnya sudah sejak lama berakar di Madura. Di surau-surau sampai masjid, pada tanggal lekoran, hal itu masif dijumpai. Tak hanya di surau-surau dan masjid saja, warga juga akan berkunjung ke tetangga-tetangga mereka untuk mengantarkan palotan-palotan hasil masakannya.

Tinggalkan Balasan