Tentu realitas demikian tidak bisa hanya diinterpretasikan dengan sebatas makanan saja. Lebih dari itu, ada hal yang lebih esensial meliputi kerekatan emosional, solidaritas, dan keramahan yang tercipta. Selain itu, sikap toleransi juga kadang tercitra di dalamnya. Sebab, salah satu tetangga saya yang non-muslim (yang bermukim di desa Mandala, Sumenep) juga kerap menerima palotan tersebut.
Memang, keberadaan palotan bukan menjadi sesuatu yang wajib ada pada setiap bulan ramadhan. Namun, jika boleh dianalogikan, Ramadan di Madura (utamanya pada tanggal lekoran) tanpa palotan bagaikan sayur tanpa garam, bisa dimakan, tapi hambar.

Tradisi unik lain bisa kita temukan di Desa Gedang-gedang, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep. Ada salah satu tradisi yang secara rutin menjadi warna ketika Ramadan tiba. Tradisi itu adalah saling berkunjung ke rumah-rumah tetangga.
Hal ini biasa dilakukan ketika tanggal 27 Ramadan. Tanpa menunggu lebaran tiba, para warga lokal berbondong-bondong mengunjungi rumah tetangga dekatnya. Mereka akan saling bersilaturrahmi dengan membahas hal-hal apa saja yang sekiranya renyah untuk dibahas. Sebab, esensi vitalnya adalah mempererat tali kekerabatan antartetangga.
Tradisi ini bahkan bisa kita jumpai sampai sekarang, dan akan terus dijalankan pada Ramadan-Ramadan selanjutnya. Ini menjadi bukti kuat bahwa Madura dengan segala kekhasannya bisa menampakkan eksistensi yang sangat eksotik untuk dipandang, baik oleh orang Maduranya sendiri atau oleh orang luar Madura. Wallahu a’lam…
