Tradisi “Lekoran” Orang Madura

Orang Madura memang selalu menciptakan kultur yang unik dalam bingkai sosial. Sikap solidaritas yang memang sejak dulu dipandang sebagai karakteristik ke-Madura-an bukanlah omong kosong melompong. Faktanya, realitas demikian memang ada bahkan sejak nenek moyang.

Salah satu karakter kemaduraan yang menonjol adalah kekeluargaan dan kekerabatan. Orang Madura biasanya terkenal ulet dengan hal-hal demikian. Nasab dan hubungan kekerabatan dijaga betul, begitu juga dengan sikap tolong menolongnya. Orang Madura, dalam hal ini, akan bersikap ghate (semangat membantu) dengan song-osong lambhung-nya (gotong royong).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hal itu bisa dilihat dalam gaya hidup (lifestyle) orang Madura setiap harinya dalam lingkup sosial. Apalagi ketika ada acara-acara sosoal kemasyarakatan (baik kecil atau besar). Mulai dari acara rokat (selamatan) sampai hajatan-hajatan besar, bahkan di acara lalabat (takziah). Keluarga mendiang bisa saja tidak mengeluarkan duit besar (banyak). Para tetangga akan saling bahu-membahu menyiapkan pemakaman, makanan untuk tamu-tamu yang ngelayat, dan lain-lainnya.

Fakta tersebut, bahwa solidaritas orang Madura relatif tinggi, juga tercermin ketika bulan Ramadan. Ada beberapa tradisi unik yang melibatkan relasi horizontal (manusia dengan manusia) dan relasi vertikal (manusia dengan Tuhannya) sekaligus. Lebih-lebih pada tanggal lekoran, periode 21 sampai akhir Ramadan. Di tanggal-tanggal tersebut tradisi demikian makin kental tersuguhkan

Palotan

Tinggalkan Balasan