Namun, ada satu hal yang menurut saya penting. Seorang penasihat seharusnya bukan hanya orang yang selalu mengatakan “iya” kepada pemimpin. Kalau semua keputusan pemerintah hanya dibenarkan, lalu apa gunanya nasihat?
Menurut saya, seorang penasihat justru dibutuhkan untuk memberikan pandangan yang mungkin belum dipikirkan oleh pemimpin. Ketika kebijakan pemerintah baik, tentu bisa didukung. Tetapi ketika ada kebijakan yang perlu dikritisi, seharusnya ada keberanian untuk menyampaikannya.

Di sinilah posisi Quraish Shihab menjadi menarik. Ia tidak hanya membawa nama sebagai seorang ulama, tetapi juga membawa pemikiran yang selama ini sudah dikenal masyarakat.
Kedekatan dengan pemerintah juga tidak harus selalu dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Yang menjadi persoalan adalah apakah kedekatan itu membuat seseorang kehilangan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Begitu juga dengan Quraish Shihab. Menjadi anggota Wantimpres tidak berarti harus selalu sejalan dengan semua keputusan pemerintah. Justru, posisi tersebut bisa menjadi ruang untuk menyampaikan nasihat dari sudut pandang keagamaan, moral, dan kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, masyarakat tentu akan melihat bagaimana pemikiran Quraish Shihab tentang kekuasaan itu dijalankan dalam posisi barunya. Selama ini ia ketahui banyak berbicara tentang pemerintahan yang dibutuhkan masyarakat dan kekuasaan yang harus memiliki nilai moral. Sekarang, ia berada cukup dekat dengan orang yang memegang kekuasaan tersebut.
Maka, tantangannya bukan sekadar bagaimana menjadi penasihat Presiden. Tantangannya adalah bagaimana tetap menjadi suara yang mampu mengingatkan kekuasaan ketika diperlukan.
Karena, menurut saya, ulama yang berada dekat dengan kekuasaan tidak harus menjauh dari pemerintah. Tetapi ia juga tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengingatkan pemerintah.
