Pada tahun 1314 H, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pulang dari Mekkah dan Madinah ke tanah air dengan membawa ilmu dan ajaran-ajaran Islam. Setelah sampai di Indonesia, beliau mengajarkan ilmunya kepada masyarakat, putra-putri bangsa, membimbing dan mendidik mereka, serta mengisi jiwa mereka dengan ruh Islam. Beliau mengembangkan pendidikan, kebudayaan dan mendirikan pondok pesantren. Selain itu, beliau juga membentuk organisasi pemuda untuk memanggul senjata dalam rangka berjuang melawan penjajah Belanda demi meraih kemerdekaan.
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang rutin diperingati setiap tanggal 17 Agustus ini pun tidak lepas dari peran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Penetapan tersebut merujuk kepada peristiwa bersejarah, yaitu seruan yang dibacakan oleh pahlawan nasional Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Seruan ini mengandung perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) demi terwujudnya Indonesia yang merdeka.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menyampaikan sambutan yang sangat berapi-api dan bernilai, yang mampu memberikan semangat dan membesarkan hati mereka. Beliau menyerukan kepada seluruh masyarakat agar tetap sabar dan tabah untuk meneruskan usaha-usaha perjuangan. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya peristiwa-peristiwa yang datang secara mendadak seperti ini tidak boleh menghancurkan cita-cita kita dan tidak boleh mematahkan semangat perjuangan” (hlm. 6).
Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mendirikan kelompok-kelompok pemuda untuk mengikuti latihan militer dan memanggul senjata. Maka, beliau membentuk kelompok Hizbullah dengan semboyan, “Ala inna hizballahi humul ghalibun.” Artinya: ingatlah bahwa hizbullah, mereka itulah yang bisa mengalahkan. Juga membentuk laskar Sabilillah, yaitu pejuang untuk umum, orang-orang tua, laki-laki dan perempuan dengan semboyan, “Waman yujahid fi sabilillah.” Artinya: dan mereka yang berjuang di jalan Allah. Selain itu, ada pula kelompok lain dengan mengusung nama Mujahidin, sebuah pasukan berani mati yang memiliki semboyan, “Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana.” Artinya: dan mereka yang berjuang di jalan-Ku, sungguh Aku pasti akan tunjukkan mereka kepada jalan-jalan-Ku.
Sedangkan di bagian akhir buku ini, Muhammad Asad Syihab membahas tentang ketidaksukaan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari terhadap fanatisme. Sebab fanatisme akan memecah belah umat Islam. Beliau pengibar ukhuwah islamiyah serta pemersatu umat Islam secara menyeluruh. Beliau sepakat dengan Al-Allamah Syaikh Muhammad Husein Abi Kasyif as-Shatha untuk mempersatukan umat Islam, meninggalkan fanatisme buta dan perselisihan antar kaum muslimin, dan berusaha menjauhkan segala sesuatu yang dapat memperkeruh suasana antara sesama umat Islam.
