Simplifikasi itu terlihat jelas saat ia sama sekali tidak mempertimbangkan–kalau tidak sengaja menghindar dari–hal-hal spesifik yang diketengahkan lawan debatnya, Iqbal Damanik. Sebut saja misalnya tentang Peraturan Menteri KKP dan putusan Mahkamah Konstitusi yang melarang kegiatan pertambangan di pulau-pulau kecil, deforestasi di Indonesia yang melampaui batas, proverty premium yang justru terjadi di hampir setiap daerah pertambangan, dan lain sebagainya. Gus Ulil alih-alih menanggapinya, tanpa keberatan ia justru melabelkan istilah lain pada sikap lawan debatnya: alarmisme. Sebutan, untuk propaganda menyebarkan rumor-rumor menakutkan.
Pada sisi ini, Gus Ulil yang menyebut perlu melihat isu pertambangan dengan lensa yang lebih kompleks, justru tampak menghindar dari kompleksitas di sepanjang perdebatan. Ia berulangkali membicarakan hal-hal yang general, seperti ajakan untuk mengkalkulasi maslahah dan mafsadah yang, sejatinya sedang dilakukan Iqbal bahkan sedari awal. Sementara di saat yang sama pendiri Jaringan Islam Liberal itu seperti abai pada persoalan spesifik yang terjadi di Raja Ampat dan kondisi saat ini.

Problem Modernisme
Salah satu kecenderungan–yang juga problem–manusia modern adalah kegemaran mereka melakukan penyeragaman (order). Dengan positivismenya, modernisme berobsesi menjelaskan, merasionalkan, dan akhirnya menertibkan segala sesuatu. Demi ketertiban itu realitas perlu dikotakkan melalui batas-batas dalam rancang-bangun teks. Istilah-istilah diproduksi untuk mengorganisasi fakta, yang sebenarnya tidak selalu sama.
Pada waktu yang sama, modernisme berupaya serius mengajukan pembedaan (diferensiasi) secara pasti. Misalnya, antara hal-hal yang metafisik dan saintifik, antara yang subjektif dan objektif. Upaya itu kemudian menimbulkan kegandrungan terhadap cara pandang yang selalu biner, dengan menghimpun sesuatu pada bagian-bagian tertentu, dan meletakkannya pada posisi yang berlawanan.
