Dalam satu sesi diskusi di Kompas TV baru-baru ini, Gus Ulil Abshar Abdalla memunculkan istilah terbarunya: “wahabi lingkungan”.
Serupa istilah “sogokan hasanah” yang ia ujarkan sebelumnya, istilah “wahabi lingkungan” menuai badai kontroversi yang tak kalah ingar.

Istilah itu ia maksudkan untuk kalangan yang secara ekstrem menolak sama sekali mining dalam pertambangan dengan alasan, “industri ekstraksi selalu pada dirinya adalah dangerous, dan itu berbahaya,” jelasnya. Kemudian segera ia merilis istilah lainnya: reasonable environmentalism. Sebuah mazhab yang mengedepankan pendekatan rasional dan, menurutnya lebih tepat untuk menyikapi isu lingkungan.
Disengaja atau tidak, melalui istilah-istilahnya itu secara tidak langsung Gus Ulil berupaya “meringkus” masyarakat yang menyuarakan penolakan terhadap tambang nikel di Raja Ampat ke dalam satu lingkaran, juga mengelompokkan mereka yang terlibat, setuju, atau sekurangnya abstain dalam lingkaran yang lain. Istilah-istilah itu tampak sengaja dimunculkan, kemudian dilabelkan, untuk dengan mudah selanjutnya melayangkan tudingan bahwa yang ini benar, dan yang itu salah.
Tentu saja cara pandang itu terlampau menyederhanakan persoalan yang sejatinya kompleks. Gus Ulil melakukan lompatan jauh dalam tangga argumentasinya. Ia lantas tiba pada konklusi yang belum utuh, dan sialnya itu menyangkut tuduhan kepada pihak lain.
